Hallo minna-san! Kali ini Niki-chan mau nge-post cerpen buatan aku sendiri. Cerpen ini udah aku kirimin ke koran Radar Kudus buat lomba, dan dapet juara satu loh! Jadi jangan ngopy sembarangan, ya! Enjoy!
Selamat Hari Ibu, Mama
Kau, seorang wanita yang kini tengah mengerang keras.
Sekujur tubuhnmu mengilap karena bermandikan peluh. Di samping tempat tidur,
seorang pria berwajah tegas tak bisa menyembunyikan ekspresi khawatir yang ia
rasakan. Ialah suamimu. Tak pernah ia melihatmu mengerang sedemikian sakit
sebelumnya. Ia menggenggam sebelah tanganmu, membiarkanya menjadi pelampiasan
tiap rasa perih yang kau rasakan.
Kau berusaha menarik nafas, dan kembali mengerang sekali
lagi. Membuat siapapun akan ikut meringis jika melihat keadaanmu. Dan saat
sebuah suara tangisan khas bayi pecah, saat itulah ketegangan yang tercipta
sejak 2 jam lalu luntur. Sang bayi mungil yang telah dimandikan dan terbalut
kain biru itu kini berada di dekapan tanganmu yang lemah. Kau tatap bayimu
lamat-lamat. Wajah bulat, hidung kecil, rambut sedikit dan pipinya yang tembam
kemerah-merahan membuatnya terlihat sangat menggemaskan.
Melihat wajah damai itu, membuatmu seakan lupa akan
perjuanganmu di 9 bulan terakhir. Morning
sick yang sangat mengganggu aktivitas, tidak makan sembarangan, mengurangi
kegiatan di luar rumah, Oh, dan jangan lupakan beban yang kian memberat di
perutmu itu.
Cup.
Itulah pertama kalinya kau mengecup kening buah hatimu,
dengan penuh kasih sayang dan doa menyertainya.
Setelah kejadian dengan pengorbanan nyawa itu, hari demi
hari berlalu kau jalani bersama keluarga kecilmu. Merawat bayi yang
polos dan tak bisa berbuat banyak, hanya menangis dan menangis setiap
harinya. Menciptakan lingkaran hitam di sekitar matamu karena kurang istirahat.
Kau juga masih harus mengerjakan pekerjaan rumah yang kerap kali membuat
sendi-sendi tulangmu terasa kaku. Tapi kau menikmatinya. Mencurahkan segala
kasih sayang pada seorang bayi adalah impianmu sejak dulu.
Kau selalu ada di tiap momen tumbuh kembang putramu. Kau
yang pertama kali melihat gigi susunya timbul. Kau juga yang mendengar kata
pertama yang terucap dari mulut mungilnya. Kaulah yang pertama kali menuntunya
belajar berjalan.Dan kebahagiaanmu membuncah, saat putramu berhasil menyebutkan
kata “Mama” sambil tersenyum dengan polosnya.
Kau sambut panggilan itu dengan senyum lebar. Mengelus
surai hitamnya, memeluk tubuh mungilnya, dan membisikkan kata-kata doa yang
mengalir lancar dari bibirmu. Seperti mengerti, putra semata wayangmu pun
tertawa renyah. Bagai musik nan merdu yang melewati gendang telingamu.
Kau pun menyaksikan tahun-tahun yang dilewati putramu di
masa pendidikan. Memasuki Taman Kanak-kanak, kau tak bisa menahan senyum saat
putramu merengek manja untuk tidak kau tinggalkan. Saat SD pun demikian.
Putramu dengan bangga memamerkan bekal lucu nan lezat yang dirimu buatkan. Naik
ke kelas dua, hal menarik terjadi. Pada tanggal 22 Desember yang terkenal
sebagai hari Ibu, putra beserta suamimu membuat sebuah kejutan. Kue kecil
buatan sendiri tersaji di meja makan. Ucapan “Selamat Hari Ibu, Mama!”
terdengar bersamaan dari putra dan suamimu. Dan saat suamimu mengatakan jika
semua itu ide putra tunggalmu, kau tak bisa menahan hasrat untuk memeluk dan
menciumi pipi tembamnya.
Yah, tahun-tahun yang sangat menyenangkan, bukan? Tapi
semua itu lenyap bagai kepulan asap di tahun berikutnya. Kini putramu menginjak
kelas 3 SD. Saat-saat di mana para anak mulai ingin dianggap remaja. Komen dari
teman-temannya membuat putramu enggan kau bawakan bekal lagi. Tak ingin kau
antar ke sekolah lagi, dengan alasan “Sekolahku kan tidak jauh, Ma.”. Merapikan
kamar, belajar, bahkan mengurus pakaian pun dapat putramu lakukan sendiri sejak
naik ke kelas 5. Putramu sudah mandiri. Kau sadar itu. Kecerdasan yang di atas
rata-rata seakan menuntunya untuk melakukan hal-hal kecil tadi. Tapi
kemandirianya seakan menciptakan jurang pemisah di antara kalian.
Baru-baru ini, kau ditelpon oleh pihak SMP tempat putramu
menuntut ilmu bahwa ia terlibat perkelahian. Hal itu menjelaskan dari mana
putramu mendapat biru lebam di ujung bibirnya kemarin. Apakah putramu salah
pergaulan? Ataukah ia pihak yang di-bully? Hal-hal semacam itu yang terus
berputar di kepalamu. Tapi kau mengenyahkan pikiran itu. Dengan senyuman tulus
yang terlukis di bibir, kau mengelus pelan kepala putramu penuh kasih sayang.
Tapi apa yang kau peroleh? Putra semata wayangmu itu malah menolehkan kepalanya
menjauh. Menghindari elusan tanganmu. Ia sudah besar, tak butuh kasih sayang
lagi. Setidaknya itulah yang ia pikirkan.
Memasuki masa SMA pun keadaanya tak bertambah baik. Tidak
hanya ditelpon, dirimu bahkan beberapa kali dipanggil pihak sekolah karena
kenakalan putramu. Berkelahi, membolos, bahkan ia pernah tertangkap saat
merokok di belakang sekolah. Entah nasihat apa lagi yang bisa kau berikan
padanya. Semua yang kau lantunkan seakan hanya menjadi angin lalu baginya.
Nasihatmu pun kerap kali dibalas dengan kata “Mama cerewet”, ataupun “Mama
bawel, deh” yang terdengar acuh. Kau hanya bisa menghela nafas. Mengelus dada
dan berdoa agar diberi kesabaran lebih oleh yang maha kuasa untuk menghadapi
putramu.
Sekarang sudah genap dua tahun sejak putramu meninggalkan
rumah. Ia ingin lebih mandiri lagi. Ia ingin mencari kerja dan mengontrak di
luar kota. Tapi kurasa ia hanya ingin terbebas dari segala nasihat-nasihat yang
sudah bagai putaran kaset darimu. Ia sudah besar. Ia pun kini memiliki gadis
yang ia banggakan sebagai “pacar”. Ia juga pernah mengenalkanya padamu.
Diam-diam kau menghela nafas. Inikah gadis pilihan putramu? Gadis dengan
bulatan berwarna metal yang menancap di dagu dan lidahnya itu?
Tapi walau bagaimanapun, gadis itu juga yang memaksanya
untuk membeli kue untukmu. Dari toko di depan kontrakan ia membeli sebuah kue
kecil, dan seorang diri membeli tiket kereta ke kota asalnya. Ia akan
memberikan kue itu, mengucapkan “selamat hari Ibu, Mama” dengan singkat, dan
kembali ke kontrakan. Ya, itulah rencananya.Tapi manusia hanya bisa
merencanakan. Nyatanya Tuhan berkehendak lain.
Di sana. Tepat di
seberang sana, sosokmu yang sudah sangat familiar baginya tengah berdiri di
pinggir jalan. Kau menatap pemuda yang kini juga tengah menatapmu dengan mata
berbinar. Putramu. Putra kesayanganmu. Hampir enam bulan penuh tak bertemu,
tentu itu sangat menyiksa batin. Dan penglihatanmu tak sengaja menangkap sebuah
kue kecil di tanganya. Hari ini tanggal 22 Desember. Untukmu kah?
Kau pun tak bisa menahan haru lagi. Butiran kristal
bening mulai membasahi pipimu. Bisa melihat putramu setelah rindu setengah
mati, ditambah dengan sebungkus kue kecil di tanganya, fakta itu sudah
membuatmu sangat bahagia. Tanpa pikir panjang kau pun berjalan cepat
menyebrangi jalan. Kau ingin menemuinya. Kau ingin memeluknya. Kau ingin
mengelus surai hitamnya seperti dulu. Apakah semuanya bisa kembali seperti saat
bertahun-tahun lalu? Bisakah?
Sayangnya tidak. Gegabah. Itulah yang kau lakukan. Rasa
rindu yang teramat dalam pada putra tersayangmu seakan membutakan mata dan
menulikan telinga. Kau bahkan tidak menyadari, saat sebuah mobil sedan berwarna
merah melaju kencang ke arahmu. Entah kau tidak tau, atau memang tidak peduli.
Tapi yang pasti mobil sedan itu tak berhasil mengerem tepat waktu, sehingga
membentur keras dan menghempaskan tubuhmu sejauh beberapa meter ke depan.
Kue yang putramu pengangi sedari luar kota terjatuh di
pinggir jalan. Tubuhnya melemas seketika. Kedua mata hitamnya membelalak lebar,
tak percaya pada apa yang barusan terjadi. Otaknya tak bekerja dengan baik. Di
saat seperti ini, ia malah terpaku di pinggir jalan, menatap tubuhmu yang sudah
tak bergerak dengan mulut setengah terbuka. Dan saat orang-orang lain mulai
mengerumunimu, saat itulah nyawanya yang barusan entah dari mana langsung
kembali.
“MAMA!” Pekiknya keras.
Ia langkahkan kakinya lebar-lebar. Ia berlari,
menghampiri sosokmu yang entah kenapa tak bergerak sama sekali. Ia bersimpuh di
samping tubuhmu yang tergolek lemas. Cairan kental berbau besi melumuri
tubuhmu. Ia guncangkan kedua bahumu, berharap kau akan bereaksi dan menanggapi
panggilanya.
Tapi nihil. Kau tak bereaksi sama sekali. Bibirmu yang
biasa menyunggingkan senyum kini memucat. Kedua kelopak matamu pun terpejam
rapat, tak ingin menyapa dunia luar. Nafas dan detak jantungmu pun tak
dapat putramu rasakan lagi. Apa ini? Apa
ini artinya ia akan kehilangan dirimu? Ia akan kehilangan Mamanya?
“Jangan bercandaaa!” Teriak putramu frustasi.
Tak putramu
pedulikan orang-orang di sekitar yang menatapnya iba. Tak putramu pedulikan
cairan merah yang kini mengotori celana dan bajunya. Yang ia inginkan hanya
melihatmu membuka mata kembali. Tersenyum lembut, memasak makanan lezat
untuknya, dan mengelus kepalanya lagi, walau hanya untuk sekali saja. Untuk
terakhir kalinya.
Tapi rasanya, semuanya terlambat. Ambulans sudah datang.
Saat tiba di rumah sakit, bahkan tanpa pemeriksaan lebih lanjut kau sudah
dinyatakan meninggal. Kali ini air mata tak dapat putramu bendung lagi.
Semuanya tumpah demi menyalurkan kesedihanya yang mendalam. Suamimu memeluknya
erat, berusaha untuk menguatkanya. Bahkan suamimu juga mengeluarkan air mata
kesedihan di balik wajah tegasnya.
Semua itu berlalu dengan cepat. Putramu berhenti bekerja
di luar kota dan kembali ke rumah lama kalian demi menemani suamimu. Ia tak
ingin mengulang kesalahan yang sama. Sambil kembali mencari pekerjaan paruh
waktu, putramu mendaftar ke Universitas. Sepertinya jalur Hukumlah yang paling
cocok untuknya. Ia selalu mengunjungi makammu tiap ada kesempatan. Mencurahkan
keluh kesah, ataupun sekedar mengirim doa agar kau beristirahat dengan tenang
di alam sana.
Dan tebak sekarang ini tanggal berapa? Tanggal 22
Desember. Hari Ibu, sekaligus peringatan kematianmu. Di sinilah putra
kesayanganmu. Di daerah pemakaman yang cukup terurus, ia letakan setangkai
bunga Lily putih di bawah salah satu nisan. Ia berjongkok, menatap tiap huruf
yang tertera di batu nisan itu dengan tatapan sendu. Ia elus puncaknya, dan
menyunggingkan senyum paling tulus yang ia miliki.
“Selamat hari Ibu, Mama.” Bisiknya lirih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar