Selasa, 16 Desember 2014

Cerpen: "Selamat Hari Ibu, Mama"



Hallo minna-san! Kali ini Niki-chan mau nge-post cerpen buatan aku sendiri. Cerpen ini udah aku kirimin ke koran Radar Kudus buat lomba, dan dapet juara satu loh! Jadi jangan ngopy sembarangan, ya! Enjoy!
Selamat Hari Ibu, Mama

Kau, seorang wanita yang kini tengah mengerang keras. Sekujur tubuhnmu mengilap karena bermandikan peluh. Di samping tempat tidur, seorang pria berwajah tegas tak bisa menyembunyikan ekspresi khawatir yang ia rasakan. Ialah suamimu. Tak pernah ia melihatmu mengerang sedemikian sakit sebelumnya. Ia menggenggam sebelah tanganmu, membiarkanya menjadi pelampiasan tiap rasa perih yang kau rasakan. 

Kau berusaha menarik nafas, dan kembali mengerang sekali lagi. Membuat siapapun akan ikut meringis jika melihat keadaanmu. Dan saat sebuah suara tangisan khas bayi pecah, saat itulah ketegangan yang tercipta sejak 2 jam lalu luntur. Sang bayi mungil yang telah dimandikan dan terbalut kain biru itu kini berada di dekapan tanganmu yang lemah. Kau tatap bayimu lamat-lamat. Wajah bulat, hidung kecil, rambut sedikit dan pipinya yang tembam kemerah-merahan membuatnya terlihat sangat menggemaskan.

Melihat wajah damai itu, membuatmu seakan lupa akan perjuanganmu di 9 bulan terakhir. Morning sick yang sangat mengganggu aktivitas, tidak makan sembarangan, mengurangi kegiatan di luar rumah, Oh, dan jangan lupakan beban yang kian memberat di perutmu itu.

Cup.

Itulah pertama kalinya kau mengecup kening buah hatimu, dengan penuh kasih sayang dan doa menyertainya.

Setelah kejadian dengan pengorbanan nyawa itu, hari demi hari berlalu kau jalani bersama keluarga kecilmu. Merawat bayi  yang  polos dan tak bisa berbuat banyak, hanya menangis dan menangis setiap harinya. Menciptakan lingkaran hitam di sekitar matamu karena kurang istirahat. Kau juga masih harus mengerjakan pekerjaan rumah yang kerap kali membuat sendi-sendi tulangmu terasa kaku. Tapi kau menikmatinya. Mencurahkan segala kasih sayang pada seorang bayi adalah impianmu sejak dulu.

Kau selalu ada di tiap momen tumbuh kembang putramu. Kau yang pertama kali melihat gigi susunya timbul. Kau juga yang mendengar kata pertama yang terucap dari mulut mungilnya. Kaulah yang pertama kali menuntunya belajar berjalan.Dan kebahagiaanmu membuncah, saat putramu berhasil menyebutkan kata “Mama” sambil tersenyum dengan polosnya.

Kau sambut panggilan itu dengan senyum lebar. Mengelus surai hitamnya, memeluk tubuh mungilnya, dan membisikkan kata-kata doa yang mengalir lancar dari bibirmu. Seperti mengerti, putra semata wayangmu pun tertawa renyah. Bagai musik nan merdu yang melewati gendang telingamu.

Kau pun menyaksikan tahun-tahun yang dilewati putramu di masa pendidikan. Memasuki Taman Kanak-kanak, kau tak bisa menahan senyum saat putramu merengek manja untuk tidak kau tinggalkan. Saat SD pun demikian. Putramu dengan bangga memamerkan bekal lucu nan lezat yang dirimu buatkan. Naik ke kelas dua, hal menarik terjadi. Pada tanggal 22 Desember yang terkenal sebagai hari Ibu, putra beserta suamimu membuat sebuah kejutan. Kue kecil buatan sendiri tersaji di meja makan. Ucapan “Selamat Hari Ibu, Mama!” terdengar bersamaan dari putra dan suamimu. Dan saat suamimu mengatakan jika semua itu ide putra tunggalmu, kau tak bisa menahan hasrat untuk memeluk dan menciumi pipi tembamnya.

Yah, tahun-tahun yang sangat menyenangkan, bukan? Tapi semua itu lenyap bagai kepulan asap di tahun berikutnya. Kini putramu menginjak kelas 3 SD. Saat-saat di mana para anak mulai ingin dianggap remaja. Komen dari teman-temannya membuat putramu enggan kau bawakan bekal lagi. Tak ingin kau antar ke sekolah lagi, dengan alasan “Sekolahku kan tidak jauh, Ma.”. Merapikan kamar, belajar, bahkan mengurus pakaian pun dapat putramu lakukan sendiri sejak naik ke kelas 5. Putramu sudah mandiri. Kau sadar itu. Kecerdasan yang di atas rata-rata seakan menuntunya untuk melakukan hal-hal kecil tadi. Tapi kemandirianya seakan menciptakan jurang pemisah di antara kalian.

Baru-baru ini, kau ditelpon oleh pihak SMP tempat putramu menuntut ilmu bahwa ia terlibat perkelahian. Hal itu menjelaskan dari mana putramu mendapat biru lebam di ujung bibirnya kemarin. Apakah putramu salah pergaulan? Ataukah ia pihak yang di-bully? Hal-hal semacam itu yang terus berputar di kepalamu. Tapi kau mengenyahkan pikiran itu. Dengan senyuman tulus yang terlukis di bibir, kau mengelus pelan kepala putramu penuh kasih sayang. Tapi apa yang kau peroleh? Putra semata wayangmu itu malah menolehkan kepalanya menjauh. Menghindari elusan tanganmu. Ia sudah besar, tak butuh kasih sayang lagi. Setidaknya itulah yang ia pikirkan. 

Memasuki masa SMA pun keadaanya tak bertambah baik. Tidak hanya ditelpon, dirimu bahkan beberapa kali dipanggil pihak sekolah karena kenakalan putramu. Berkelahi, membolos, bahkan ia pernah tertangkap saat merokok di belakang sekolah. Entah nasihat apa lagi yang bisa kau berikan padanya. Semua yang kau lantunkan seakan hanya menjadi angin lalu baginya. Nasihatmu pun kerap kali dibalas dengan kata “Mama cerewet”, ataupun “Mama bawel, deh” yang terdengar acuh. Kau hanya bisa menghela nafas. Mengelus dada dan berdoa agar diberi kesabaran lebih oleh yang maha kuasa untuk menghadapi putramu.

Sekarang sudah genap dua tahun sejak putramu meninggalkan rumah. Ia ingin lebih mandiri lagi. Ia ingin mencari kerja dan mengontrak di luar kota. Tapi kurasa ia hanya ingin terbebas dari segala nasihat-nasihat yang sudah bagai putaran kaset darimu. Ia sudah besar. Ia pun kini memiliki gadis yang ia banggakan sebagai “pacar”. Ia juga pernah mengenalkanya padamu. Diam-diam kau menghela nafas. Inikah gadis pilihan putramu? Gadis dengan bulatan berwarna metal yang menancap di dagu dan lidahnya itu?

Tapi walau bagaimanapun, gadis itu juga yang memaksanya untuk membeli kue untukmu. Dari toko di depan kontrakan ia membeli sebuah kue kecil, dan seorang diri membeli tiket kereta ke kota asalnya. Ia akan memberikan kue itu, mengucapkan “selamat hari Ibu, Mama” dengan singkat, dan kembali ke kontrakan. Ya, itulah rencananya.Tapi manusia hanya bisa merencanakan. Nyatanya Tuhan berkehendak lain.

 Di sana. Tepat di seberang sana, sosokmu yang sudah sangat familiar baginya tengah berdiri di pinggir jalan. Kau menatap pemuda yang kini juga tengah menatapmu dengan mata berbinar. Putramu. Putra kesayanganmu. Hampir enam bulan penuh tak bertemu, tentu itu sangat menyiksa batin. Dan penglihatanmu tak sengaja menangkap sebuah kue kecil di tanganya. Hari ini tanggal 22 Desember. Untukmu kah? 

Kau pun tak bisa menahan haru lagi. Butiran kristal bening mulai membasahi pipimu. Bisa melihat putramu setelah rindu setengah mati, ditambah dengan sebungkus kue kecil di tanganya, fakta itu sudah membuatmu sangat bahagia. Tanpa pikir panjang kau pun berjalan cepat menyebrangi jalan. Kau ingin menemuinya. Kau ingin memeluknya. Kau ingin mengelus surai hitamnya seperti dulu. Apakah semuanya bisa kembali seperti saat bertahun-tahun lalu? Bisakah?

Sayangnya tidak. Gegabah. Itulah yang kau lakukan. Rasa rindu yang teramat dalam pada putra tersayangmu seakan membutakan mata dan menulikan telinga. Kau bahkan tidak menyadari, saat sebuah mobil sedan berwarna merah melaju kencang ke arahmu. Entah kau tidak tau, atau memang tidak peduli. Tapi yang pasti mobil sedan itu tak berhasil mengerem tepat waktu, sehingga membentur keras dan menghempaskan tubuhmu sejauh beberapa meter ke depan.

Kue yang putramu pengangi sedari luar kota terjatuh di pinggir jalan. Tubuhnya melemas seketika. Kedua mata hitamnya membelalak lebar, tak percaya pada apa yang barusan terjadi. Otaknya tak bekerja dengan baik. Di saat seperti ini, ia malah terpaku di pinggir jalan, menatap tubuhmu yang sudah tak bergerak dengan mulut setengah terbuka. Dan saat orang-orang lain mulai mengerumunimu, saat itulah nyawanya yang barusan entah dari mana langsung kembali.

“MAMA!” Pekiknya keras.

Ia langkahkan kakinya lebar-lebar. Ia berlari, menghampiri sosokmu yang entah kenapa tak bergerak sama sekali. Ia bersimpuh di samping tubuhmu yang tergolek lemas. Cairan kental berbau besi melumuri tubuhmu. Ia guncangkan kedua bahumu, berharap kau akan bereaksi dan menanggapi panggilanya.

Tapi nihil. Kau tak bereaksi sama sekali. Bibirmu yang biasa menyunggingkan senyum kini memucat. Kedua kelopak matamu pun terpejam rapat, tak ingin menyapa dunia luar. Nafas dan detak jantungmu pun tak dapat  putramu rasakan lagi. Apa ini? Apa ini artinya ia akan kehilangan dirimu? Ia akan kehilangan Mamanya? 

“Jangan bercandaaa!” Teriak putramu frustasi.

Tak  putramu pedulikan orang-orang di sekitar yang menatapnya iba. Tak putramu pedulikan cairan merah yang kini mengotori celana dan bajunya. Yang ia inginkan hanya melihatmu membuka mata kembali. Tersenyum lembut, memasak makanan lezat untuknya, dan mengelus kepalanya lagi, walau hanya untuk sekali saja. Untuk terakhir kalinya.

Tapi rasanya, semuanya terlambat. Ambulans sudah datang. Saat tiba di rumah sakit, bahkan tanpa pemeriksaan lebih lanjut kau sudah dinyatakan meninggal. Kali ini air mata tak dapat putramu bendung lagi. Semuanya tumpah demi menyalurkan kesedihanya yang mendalam. Suamimu memeluknya erat, berusaha untuk menguatkanya. Bahkan suamimu juga mengeluarkan air mata kesedihan di balik wajah tegasnya.

Semua itu berlalu dengan cepat. Putramu berhenti bekerja di luar kota dan kembali ke rumah lama kalian demi menemani suamimu. Ia tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Sambil kembali mencari pekerjaan paruh waktu, putramu mendaftar ke Universitas. Sepertinya jalur Hukumlah yang paling cocok untuknya. Ia selalu mengunjungi makammu tiap ada kesempatan. Mencurahkan keluh kesah, ataupun sekedar mengirim doa agar kau beristirahat dengan tenang di alam sana.

Dan tebak sekarang ini tanggal berapa? Tanggal 22 Desember. Hari Ibu, sekaligus peringatan kematianmu. Di sinilah putra kesayanganmu. Di daerah pemakaman yang cukup terurus, ia letakan setangkai bunga Lily putih di bawah salah satu nisan. Ia berjongkok, menatap tiap huruf yang tertera di batu nisan itu dengan tatapan sendu. Ia elus puncaknya, dan menyunggingkan senyum paling tulus yang ia miliki.

“Selamat hari Ibu, Mama.” Bisiknya lirih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar