Sabtu, 14 Februari 2015

Hetalia fanfic: Valentine Day... What Is It?



  Hola minna-san! Niki-chan kembali setelah hibernasi selama beberapa bulan! Fic ini aku buat untuk memeriahkan hari Valentine. Ini fanfic pertama aku di fandom Hetalia yang aku publish. Sebenernya bukan fic Hetalia yang pertama kutulis sih, tapi yang lain masih dalam proses. Karena Valentine undah deket dan tiba-tiba dapet wangsit buat bikin ginian, ya nulis yang ada di pikiran aja, dulu. 

   Sebenernya guru agamaku ngelarang buat ngerayain, ngikutin, ato apalah, yang berhubungan ama hari Valentine... Tapi cuek aja, lah! Lagian aku juga gak ngerayain, kok. Pacar aja gak pernah punya! Ya udah. Enjoy, ya!

   Author: Nikita Yuana a.k.a Niki-chan!

   Fandom: Axis Power: Hetalia

   Genre: Family, Romance

   Rated: T

   Main chara: Hong Kong. (Niki-chan: Kyaaaa! Hong Koooong! Wajah tembokmu mengalihkan duniakuuu! *diledakin pake petasan*)

   Warning: OOC, gaje, shonen-ai, PWP. Cerita gaje ini bersetting tempat dan waktu gaje. Tapi yang pasti Hong Kong udah ikut sama si alis tebel (*dicekokin scone*). Don’t like, don’t read!

Disclaimer: Hetalia yang yahudnya minta ampun itu punya Om Hedikaz Himaruya!

Valentine Day... What Is It?

   “Hari Valentine... Apa itu?” 

   Ketiga pasang mata dengan warna yang berbeda menuju ke arahku. Mereka memandangku seakan pertanyaan sederhanaku tadi adalah hal teraneh di dunia ini. Seorang dari mereka bahkan lupa bagaimana caranya menutup mulut dengan rapat.  Setelah mereka bertiga puas tertegun selama beberapa detik, barulah seorang dari mereka yang tampak paling dewasa angkat bicara.

   “Hong Kong, kau tidak tau apa itu hari Valentine?” Tanya pria berambut pirang pasir bermata emerald itu sambil menatapku. Memangnya hari apa itu? Apakah sangat penting hingga mereka bertiga membicarakanya dengan senyum terlukis sepanjang waktu? Bahkan lebih penting dari hari Minggu? Banyak yang ingin kutanyakan, tapi aku menelan satu persatu pertanyaan itu kembali ke tenggorokanku. Aku pun hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaanya.

   Buk!

   Salah satu dari mereka, remaja bermata biru yang memiliki cowlick aneh di bagian depan kepalanya menepuk pundakku keras. Hampir saja aku jatuh tersungkur, jika seorang remaja lagi yang suka terlihat memeluk seekor beruang kutub tidak menahan tubuh kecilku.

   “Kau dengar itu Iggy? Mattie? Hong ini bagaimana, masa tidak tau apa itu hari Valentine? Ahahaha!” Gelak remaja ber-cowlick tadi.

   “Alfred, kau tidak boleh kasar begitu...” Ucap remaja satunya (yang sangat mirip denganya) lebih seperti bisikkan. Aku heran dengan orang ini. Mataku yang salah, atau memang remaja personifikasi Canada itu agak transparan, ya? Tunggu, memangnya ada negara bernama Canada?

   “Iya Alfred. Selama ini Hong Kong kan selalu tinggal bersama China, mungkin di Asia tidak ada tradisi hari Valentine seperti kita.” Ucap si Pria. Pria itu menatapku lagi, dan aku pun membalasnya dengan wajah datarku. 

   Lumrahnya, jika seseorang bicara dengan orang yang lain, pasti akan langsung menatap matanya bukan? Apalagi jika mata orang itu juling. Seperti ada daya tarik sendiri di tiap pasang mata manusia agar seseorang selalu menatapnya. Iya, kan? Tapi beda dengan pria personifikasi negara United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland ini. Jika seseorang bicara padanya, pandangan yang tertuju untuk pertama kali bukanlah pada kedua mata emeraldnya, melainkan pada alisnya yang berlapis-lapis itu. Benar, alis keramatnya seakan memiliki daya tarik sendiri untuk terus dipandangi.

   England (begitulah aku biasa memanggilnya) berjongkok untuk menyamakan tingginya denganku.

   “Valentine, adalah hari kasih sayang, di mana kita bisa memberi hadiah sebagai ungkapan rasa sayang kita pada seseorang. Yah, itu versi singkatnya, sih.” Jelasnya sambil menyungging senyum.

   Aku mengangguk mengerti tanpa mengubah ekspresiku. “Apa... Aku juga harus mengikuti tradisi itu karena sekarang aku tinggal di sini?” Tanyaku.

   “Hmm... Aku tidak bisa mengatakan ‘harus’. Kami merayakan hari Valentine tanpa paksaan, karena keinginan kami sendiri untuk mengungkapkan rasa sayang pada seseorang. Baik teman, keluarga, ataupun orang lain yang kau sayangi. Jadi, terserahmu ingin mengikuti tradisi itu atau tidak. Tidak ada paksaan, kok.” Jawabnya. Sekali lagi aku mengangguk mengerti. Karena malam sudah larut, England pun menyuruhku ke kamar untuk pergi tidur. Aku menurutinya walau sebenarnya tidak terlalu mengantuk.

   Sampai di dalam kamar, aku pun berganti baju dengan piyama merah maroon (warna kesukaanku), cuci muka,  dan menggosok gigi. Aku mulai menaiki tempat tidur dan berbaring sambil memeluk boneka panda pemberian Yao sensei dulu. Aku pun kembali mengingat perkataan England tentang hari Valentine tadi. Kalau tidak salah, America juga bilang bahwa hari kasih sayang itu jatuh pada tanggal 14 Februari, berarti tinggal dua hari lagi. Agak heran juga. Dari sekian banyak tanggal di tiap tahunya... Kenapa 14 Februari? Dan kalau memang hari kasih sayang... Kenapa tidak diadakan lebih dari sekali dalam setahun? Bukankah menunjukkan bahwa kita menyayangi seseorang itu tidak hanya dibatasi oleh tanggal? Ah, entahlah. Aku masih tidak mengerti cara berpikir orang-orang Eropa ini.

   Apa sebaiknya aku juga ikut merayakan tradisi itu, ya? Walaupun aku masih tidak mengerti, tapi bukan berarti aku tidak bisa memberi hadiah pada orang yang kusayang, kan? Tapi masalahnya... Siapa yang akan kuberi hadiah? Dan hadiah apa yang biasa diberikan saat hari Valentine? Ah, mungkin bisa kukesampingkan dulu masalah pemilihan hadiahnya. Sekarang masalahnya, siapa yang harus kuberi hadiah. England bilang aku bisa memberi pada seseorang yang kusayangi. Siapa? Aku tau aku menyayangi Yao sensei. Pria personifikasi China itu yang sudah merawatku, memberiku bahasa, mengajariku baca-tulis, memberi figur ayah, ibu, dan kakak sekaligus. Aku juga menyayangi saudara-saudaraku di Asia Timur. Tapi kurasa jarak tempat kami kini sangatlah jauh. Dan anak kecil sepertiku tak mungkin pulang-pergi ke Eropa-Asia sendirian.

   Lalu siapa? England? Apa aku harus memberi hadiah kepada seseorang yang telah memisahkan aku dengan keluargaku? Yah, aku tidak begitu membencinya karena hal itu. Bagaimanapun ia juga yang telah memberiku banyak ilmu baru dan hal-hal modern beberapa bulan ini, sesuatu yang tak kudapat dari Yao sensei. Dan tinggalnya aku di rumah ini tidak sepenuhnya salah England, Yao sensei juga salah. Ia saja yang tidak mau menjadi koloni England, sehingga menyerahkanku begitu saja. Aku tetap harus berterima kasih pada pria beralis tebal itu. Tapi kurasa rasa terima kasihku padanya tidak sampai pada kata ‘sayang’.

   Lagipula, kurasa penjelasan England tentang hari Valentine tadi kurang jelas di pandanganku. Sekedar hari kasih sayang di mana orang-orang saling bertukar hadiah? Benar hanya itu? Dari mana asal-usulnya? Bagaimana sejarahnya? Apa ia yakin itu bukan hanya cerita karangan anak alay yang tengah dilanda asmara?

   Uh, aku sadar jika memang ada banyak pertanyaan di balik wajah datarku. Akupun agak terganggu akan hal kecil yang kerap kali menjadi pikiran itu. Kurasa aku harus ke perpustakaan kota demi mencari jawabanya besok.

 Perlahan rasa kantuk mendera, dan dan aku pun mulai memejam. Membiarkan kedua kelereng coklat tuaku tertutup oleh kelopak mata. Dan sedikit demi sedikit, kesadaranku pun hilang ditelan mimpi...
   
   -

   -

   -

   -Next morning-

   Pagi ini aku bangun lebih awal dari biasanya. Kukerjapkan kedua mataku beberapa kali demi mengumpulkan nyawa yang entah tercecer di mana. Setelah sadar sepenuhnya, aku pun mengambil posisi duduk di tempat tidurku. Aku tidak menguap, hampir tidak pernah. Entahlah, sepertinya aku memang tidak dilahirkan untuk hal itu. Terlalu OOC, kalau kata Author.

   Kurenggangkan kedua tangan dan mengucek mata pelan. Menuju kamar mandi demi memenuhi panggilan alam, sekaligus mandi dan berganti pakaian. Aku memilih memakai pakaian oriental hari ini. Kenapa? Sedang ingin saja. Aku memang membawa beberapa pakaian lamaku sebelum pindah ke sini. Atasan merah maroon berlengan panjang sampai melewati tangan dan celana hitam longgar jadi pilihan. Aku juga melilitkan kain kuning panjang sebagai ikat pinggang. Kusisir rambut hitam kecoklatanku seadanya. Pria Inggris beralis tebal satu itu sangat suka dengan kerapian rambut ‘adik-adik’-nya. Padahal rambutnya sendiri tak pernah (atau memang tidak bisa) disisir rapi. Tapi sepertinya, England  sudah menyerah dengan cowlick milik America yang tetap mencuat walau diberi gel rambut sekalipun.

   Aku pun turun ke bawah. Di ruang makan, England dan Canada sudah menunggu. Mereka berdua tersenyum untuk menyambutku, dan hanya kubalas dengan anggukan singkat. England tidak mempermasalahkan hal itu lagi. Awalnya, ia kira aku bersikap dingin padanya karena kau membencinya dulu. Tapi seiring berjalanya waktu ia mengerti, jika memang beginilah sifatku. Yang bagaimana? Ya yang begini ini.

   Canada kini sedang memasak pancake, sedangkan England tengah menikmati tehnya. Memang sudah rutinitas Canada untuk membuat sarapan, dan England yang menyeduh teh utuk semua penghuni rumah ini. Aku tidak pernah (dan tidak ingin) sarapan dengan masakan England. Tidak, aku tidak ingin mati di pagi hari, tidak terima kasih. Terakhir kuingat aku memakan masakanya adalah scone yang ia suguhkan sebagai hidangan selamat datang bagiku ke rumahnya. Saat itu aku tidak menanggkap sinyal dari America dan Canada untuk jangan memakanya, dan kecelakaan itu pun terjadi. Aku dilarikan ke rumah sakit, tepat di hari pertama aku menginjakkan kakiku ke daratan Eropa. Itu adalah hal berharga sebagai pelajaran hidup bagiku.

   “G’Morning! HERO berhasil bangun pagi kali ini! Hwahahaha!” Seru America sambil memeluk England dari belakang, membuat pria itu kaget dan menyemburkan tehnya.

   “Bloody git! Jangan mengagetkanku!” Umpat England kelihatan emosi dan hanya ditanggapi juluran lidah oleh America.

   Selain pertengkaran dan adu mulut kecil antara England dan America, acara sarapan pagi ini cukup lancar. Entah kenapa kau jadi ingat Japan, kakak keduaku yang dengan bangga menyebut bahwa dirinya adalah seorang 'otaku'. Dia pernah beberapa kali melihat England dan America bertengkar, dan Japan bilang mereka akan menjadi pairing masa depan. Aku tidak begitu mengerti. Tapi yang pasti, sepasang mata hitamnya nampak berbinar saat ia mulai membicarakan soal ‘seme’ dan ‘uke’. Saat aku tanya apa arti dari kedua kata itu, Yao sensei keburu menjitak kepalanya sebelum dia menjelaskan padaku.

   “Hong Kong, apa ada tempat yang ingin kau kunjungi hari ini? Sudah lama kau tidak pergi ke luar, kan?” Tanya England. Aku mengangguk.

   “Aku ingin ke perpustakaan kota.” Jawabku sambil melahap sepotong pancake dengan tuangan sirup maple.

   “Perpustakaan kota? Tapi aku tidak bisa mengantarkanmu karena harus bekerja. Bagaimana dengan kalian, America? Canada?” Tanya England pada dua orang yang sangat mirip itu.

   “Apa? Tapi HERO harus membeli film horror tebaru hari ini. Edisi terbatas loh! Penjualnya kemarin bilang jika film itu adalah film terseram yang ia miliki! Sayang uangku habis kemarin. Nanti ikut nonton denganku ya, Iggy?” Kata America tidak terlalu nyambung.

   “A-aku tidak bisa hari ini. Aku harus pergi ke suatu tempat. Kalau besok, mungkin aku bisa menemanimu, Hong...” Jawab Canada lirih seperti biasa.

  Aku menggeleng. “Tidak perlu diantar. Perpustakaanya kan tidak terlalu jauh.” Ucapku.

   Alis tebal England berkerut, tanda bahwa ia sedang berpikir. Entah kenapa aku membayangkan ada dua ekor ulat bulu yang tengah mengobrol dengan akrabnya di atas dahi seseorang. Pikiran yang kurang ajar memang, salahkan saja imajinasiku ini. Tapi tidak akan ada masalah selama aku tidak mengungkapkan imajinasi berlebihanku itu.

   “Kau yakin akan pergi sendiri?” Aku mengangguk untuk menjawab pertanyaan England.

   “Kalau begitu berhati-hetilah  saat jalan. Lihat kanan-kiri jika menyebrang, jangan mau ikut ajakan orang asing. Kunci semua jendela dan pintu. Istirahatlah jika kau sudah terlalu lelah untuk jalan kaki. Jangan lama-lama keluar rumahnya,...” Dan masih banyak lagi petuah-petuah tentang keselamatan di luar rumah yang England tuturkan padaku.

   Padahal aku sudah tau semua itu. Walaupun tubuhku kecil, tapi aku tetaplah personifikasi dari sebuah daerah istimewa. Aku sudah cukup mengetahui tentang hal-hal kecil seperti itu. Paling yang masih perlu kupelajari adalah sejarah dunia, masalah ekonomi, sosial, budaya, politik, dan hal-hal yang berhubungan dengan masalah kenegaraan lainya. Tapi aku memang lumayan menyukai perhatian yang England tujukan padaku.

   “... Dan jangan buang sampah sembarangan...” Dua jam berlalu, dan petuahnya masih belum berakhir jika saja Canada tidak memperingatkanya.

   “Eum... England, ini sudah jam sepuluh...” Lirihnya. England melirik jam tanganya, dan ia langsung kelabakan seperti orang kebakaran jenggot. Lalu England berlari menuju pintu keluar setelah meraih tasnya.

   “Pokoknya hati-hati, ya!” Ucapnya sebelum menutup pintu depan.

   America sudah pergi sejak setengah jam lalu. Katanya ia harus antri terlebih dahulu jika ingin membeli film horror terbaru itu. Aku pernah diajaknya menonton salah satu koleksi film horrornya. Walau ekspresiku tidak berubah, tetap saja tubuhku gemetaran. Tapi masih mending sih, daripada dirinya yang teriak-teriak histeris. Padahal jika takut, sebenarnya tidak perlu menonton, kan? Sekarang, aku dan Canada tinggal berdua. Ralat, bertiga bersama beruangnya yang bernama Kumajiro.

   “Aku akan mengantarkanmu ya, Hong Kong.” Ucapnya.

   “Bukankah kau ada urusan?” Tanyaku.

   “Hm, tapi aku ingin mengantarmu dulu. Nanti baru kau pulang sendirian. Bagaimana?” Aku mengangguk menanggapi tawaranya.

   Kami berdua pun keluar rumah setelah mengunci semua pintu dan jendela. Tidak, kami tidak menggunakan gembok dan memasang paku pada pintunya seperti kata England, kok. Hanya mengunci. Canada menggandengku dengan tangan kiri, sementara tangan kananya menggendong Kumajiro kesayanganya. Jarak antara rumah England dan perpustakaan kota tidak terlalu jauh, hanya sekitar tiga blok. Sesampainya di depan perpustakaan yang besar itu, Canada pamit sambil melambaikan tanganya padaku. Aku hanya membalasnya dengan anggukan kecil.

   Aku pun memasuki gedung perpustakaan. Keadaan perpustakaan itu sangat sepi, seperti bagaimana seharusnya. Aku disambut disapa oleh seorang penjaga perpustakaan itu dengan ramah. Penjaga perpustakaan berkaca mata itu menanyai apa keperluanku datang di sini. Tunggu. Ini perpustakaan, kan? Apa lagi yang bisa dilakukan di tempat ini? Karaoke? Kalau begitu aku salah tempat.

   Ingin rasanya aku mengeluarkan kata-kata yang terngiang di kepalaku itu, tapi kuurungkan. Mungkin besok, jika tubuhku sudah tumbuh lebih besar lagi. Maka aku sudah terlihat pantas untuk mengatakanya.

   “Aku mencari buku.” Jawabku singkat.

   “Buku seperti apa?” Tanya penjaga itu.

   Jika aku Indonesia, anak perempuan yang kini tengah hidup sebagai pelayan di rumah Netherland, mungkin aku akan menjawab “Kepo banget sih. Situ oke? Situ artis?” begitu. Tapi tentu aku tidak mengatakanya.

   “Buku tentang informasi Valentine.” Jawabku lebih spesifik.

   Setelah tertawa kecil tanpa kuketahui sebabnya, Panjaga perpustakaan itu pun menawariku untuk mengantar, dan aku mengiyakan. Kami menuju lantai dua, di mana hanya ada beberapa orang yang sedang membaca di sana. Dia menunjukkan bufet tempat aku bisa menemukan buku yang kucari, dan aku berterima kasih singkat. Penjaga perpustakaan itu pun meninggalkanku. Mulai kupandangi bufet yang penuh dengan buku-buku baik tua ataupun baru itu. Kuputuskan untuk mengambil buku berjudul “Valentine’s Tragedy” di tempat yang tidak terlalu tinggi. Mulai kubuka dan kubalik-balik, aku pun membacanya seklilas. Oh, ternyata buku sejarah bagaimana terjadinya Valentine. Buku yang kubutuhkan, jika saja huruf-huruf super kecil yang nampak tanpa spasi di mataku itu tidak membuatku pusing.

   Kukembalikan buku itu ke tempat asalnya, dan mulai melihat-lihat judul yang lain. Pandangan mataku tertuju pada sebuah buku tidak terlalu tebal, yang dapat kulihat berjudul “What Is Valentine?”. Hn, judul yang tepat seperti pertanyaan di kepalaku. Namun sayang, lokasinya itu. Ada di rak nomor dua dari atas. Mungkin sekitar dua meter dari lantai. Bagus, selamat tinggal ilmu pengetahuan. Maaf, tapi kau terlalu mustahil untuk kuraih. Aku sangat ingin, tapi aku tak mampu untuk menggapaimu. Entah kenapa aku merasa seperti anak miskin yang sangat ingin sekolah tapi tak punya biaya. Sekali lagi, tunggu. Apa yang kini sedang kubicarakan? Ah, sudahlah.

   Tak menyerah, kupandangi buku itu dengan tatapan datarku. Aku sendiri juga heran. Apa hubunganya mengambil buku dan memandanginya, ya? Entahlah. Kata Author, akan terlalu OOC jika aku melompat-lompat untuk meraihnya. Aku juga tidak ingin, terlalu menguras tenaga. Lagipula aku tau jika tinggiku tidak akan sampai walau aku sudah menaiki kursi dan melompat sekalipun. Jadi, kulanjutkan saja kegiatan menatap buku itu dari bawah. Siapa tau nanti dia jatuh sendiri, kan? Mustahil? Ya, aku juga tau. Aku hanya melakukan apa yang kubisa.

   Saat sedang fokus menatap buku itu, tiba-tiba ada sebuah tangan ramping yang meraihnya. Uh tidak, apa aku didahului? Kutelusuri asal tangan itu, dan pandanganku bertubrukkan dengan sepasang mata berwarna biru keunguan dengan tatapan datar.
   “Kau ingin mengambil buku ini?” Tanyanya. Aku mengangguk sebagai jawaban. Orang cantik yang ternyata seorang pria itu menyerahkan buku yang dari tadi kupandangi kepadaku. Kuterima dengan heran, walau tak nampak di wajahku. Setelah tersadar hari keheran, aku pun angkat bicara.

   “Terima kasih.” Ucapku sambil sedikit membungkuk. Orang itu hanya mengangguk dan berbalik untuk melenggang pergi.

   .

   .

   Tunggu, siapa orang itu? Ah, sudahlah. Lagipula England kan melarangku untuk  terlalu dekat dengan orang asing. Kuputuskan untuk membaca buku yang ada di tanganku setelah menarik kursi perpustakaan dan duduk dengan tenang. Kubaca halaman pertama, isinya hanya basa-basi dari sang penulis. Karena kupikir halaman-halaman selanjutnya juga seperti itu, aku pun melewati beberapa halaman dan membaca bagian tengahnya.

   [Makna dibalik nama valentine day's 

   Tanggal 14 februari merupakan hari perayaan terhadap dihukum matinya seorang pahlawan kristen yaitu: Santo Valentine, kejadian ini terjadi tepat pada tanggal 14 februari 270 M.

   Valentine day's adalah sebuah dimana orang-orang yang sedang dilanda cinta, saling mengirimkan pesan cinta dan hadiah-hadiah antara satu sama lain, yaitu hari dimana santo valentine mati sebagai seorang pahlawan yang teguh mempertahankan keyakinannya. 

   Valentine yang biasa dikatakan itu adalah seorang utusan dari rhaetia dan dimuliakan di Passau sebagai uskup pertama.]

   Hm... Baiklah, jadi Valentine itu nama seseorang? Dan orang-orang menebar kasih sayang dan suka cita karena kematianya? Agak ironis, ya? Karena tidak tertulis lebih rinci (dan aku juga tidak membutuhkanya), aku kembali membaca halaman lain.
   [Hadiah pada hari Valentine

   Hadiah yang umum diberikan pada hari Valentine adalah coklat, boneka, ataupun suatu masakan. Tapi ada juga yang memberi hadiah tak biasa, seperti pakaian, barang-barang mewah, atau bahkan petasan. Orang yang kita sayangi akan lebih bahagia, jika hadiah yang kita berikan adalah buatan dari tangan kita sendiri. ]

   Kedua alis (agak) tebalku terangkat saat membaca kata “petasan”. Ya, entah kenapa alisku menjadi (sedikit) lebih tebal dari sebelumnya semenjak aku meninggalkan Asia. Tapi tenang saja, tidak sampai semengerikan milik England, kok. Apa aku tertular kutukan dari pria itu? Kudengar dari America, England memiliki tiga kakak laki-laki, dan semuanya beralis tebal. Tapi miliknya-lah yang paling membahana. OOT kah? Oke, kembali ke masalah petasan. 

   Kuakui bahwa aku sangat menyukai benda berisik satu itu. Aku menyukai warna merah kertas pelapisnya, aku menyukai pemandangan sumbu yang tersulut dan menciptakan percikan-percikan api itu. Aku menyukai detik-detik menegangkan saat menunggu sumbunya habis, dan aku paling menyukai ledakan kecil yang memekakan telinga dengan suara nyaringnya. Aku menikmati kepulan aroma asap putih yang terkadang membuat sesak nafas, tapi memberi kepuasan tersendiri itu. Aku juga menikmati saat-saat harus menyapu sisa-sisa kertas yang bertebaran di tanah sebagai bentuk tanggung jawab. Intinya, aku menyukai semua bagian dari petasan, termasuk proses perakitanya.

   Sudah kuputuskan. Kututup buku itu tanpa mengembalikan ke tempatnya semula. Memangnya aku sampai apa? Aku harus minta maaf pada sang penjaga perpustakaan ini. Saat bertemu denganya di depan, aku pun berterima kasih singkat dan pergi dari sana. Ah, aku lupa memberi tahunya tentang buku yang belum kukembalikan tadi. Setidaknya, aku mencoba lupa. Aku kembali ke rumah England, dan mengambil kertas juga pulpen. Aku mulai mencatat berbagai keperluan bahan yang telah kuingat di luar kepala sebagai bahan-bahan pembuat petasan, dan aku pun kembali keluar rumah. Tak lupa mengunci pintu depan.

   Aku pun mulai berjalan di trotoar untuk menuju wilayah pecinan, di mana aku bisa membeli bahan-bahan yang kuperlukan. Walaupun pecinan ada hampir di seluruh negara di dunia, tapi aku ragu ada Yao sensei ada di sana. Ia kan juga harus mengurusi negara, bukan hanya berdagang. Aku jadi agak rindu saat-saat berdagang denganya. Walaupun tanpa senyum khas sales dan tidak teriak-teriak saat menjajakan dagangan, tapi aku cukup lihai dalam menarik pelanggan. Hanya dengan memasang wajah datar harianku dan mata yang kubuat agak berkaca-kaca, orang-orang pasti mau beli apapun yang kujual. Yao sensei bilang, segala kelebihan kita harus dimanfaatkan. Jadi aku memanfaatkan keimutan wajahku. Baik, baik, aku memang sedikit narsis.

   Setelah berjalan agak jauh, akhirnya aku sampai di pecinan. Suasananya sangat ramai di sana. Baik orang Tiong hoa maupun orang Eropa ada. Aku agak kesulitan untuk berjalan karena didesak-desak orang. Tubuh kecilku membuatku mudah terombang-ambing di lautan manusia. Tapi tak apa lah. Yang penting aku sudah sampai ke tujuan dengan selamat. Di toko petasan, aku membeli banyak bahan. Kertas-kertas pelapis, lem, tali sumbu, mesiu, dan beberapa bubuk lain. Dari mana aku dapat uang? Tentu saja England yang memberiku tiap minggunya. Ia selalu pulang sore ataupun larut, jadi ia memberi uang mingguan pada aku, America, dan Canada untuk membeli bahan makanan ataupun makan di luar. Kupandangi puas bungkusan di tanganku, dan aku mulai berjalan pulang.

   Aku berjalan ke arah matahari yang kini nyaris terbenam. Sinar jingga kemerahanya menyelimuti tubuh kecilku yang tengah berjalan pelan. Bukan sesuatu yang spesial bagiku, tapi aku juga tidak membencinya. Maka kunikmati saja keindahan cahaya itu dalam diam, sambil sesekali menggigit bak pao daging yang barusan kubeli.

   Sesampainya di rumah, kepulanganku disambut oleh rentetan pertanyaan dari England. Pergi ke mana, dengan siapa, semalam berbuat apa, -eh, malah seperti lagu galau milik Indonesia, ya? Padahal aku hanya pergi dari siang sampai sore, kan? Dan sifat tsundere England yang muncul makin membuatku ingin segera meledakan petasan ke alis tebalnya lagi. Iya, lagi. Dulu saat hari-hari pertama aku tinggal di rumahnya, kulihat dia yang tengah tidur siang di sofa. Dan sial baginya, karena aku sedang mengeluarkan petasan yang kubawa dari rumah lamaku. Aku mengendap-endap, dan mulai menyulut sumbu petasan tepat di atas wajahnya dalam diam. Jika saja Canada tidak menarikku saat itu, pasti alis bak ulat bulu yang menggelikan milik England sudah tak berbentuk lagi. Ah, cerita lama. Indahnya...

   “Bu-bukanya aku khawatir padamu atau apa, ya! Tapi kalau kau kenapa-kenapa, pasti China akan membunuhku tau. Bu-bukan karena aku yang mengkhawatirkanmu!” Serunya panik.

   “Hn, maafkan aku.” Ucapku singkat sambil sedikit membungkukan badan.

   Setelah itu, kami makan malam dengan masakan England (dalam pengawasan Canada). Walau masih terasa agak aneh, tapi setidaknya bisa dimakan. Warnanya juga seperti makanan pada umumnya. Tidak ada unsur warna ungu dan hitam di masakanya kali ini. Aku pamit untuk pergi ke kamarku setelah acara makan malam. Bukan ingin tidur, tapi aku ingin segera merakit bahan-bahan petasan yang kubeli tadi. Di atas meja belajar, aku pun mulai mengeluarkan satu persatu bahan dari kantong plastik. Tanganku dengan lincah mulai meracik beberapa bubuk hitam berbeda dan memasukkanya ke dalam kertas yang sudah kulinting sebesar ibu jari orang dewasa. Kurangkai menjadi satu beberapa tabung berwarna merah itu denbgan tali, dan mengulanginya sebanyak tiga kali. Dan jadilah... Petasan Ala Hong Kong yang siap meledakkan alismu...

   -Skip-

   Walaupun kantuk masih terasa, tapi kubuka mataku perlahan dan- oh tidak, aku bangun kesiangan. Jam kecil di meja samping tempat tidurku sudah menunjukkan pukul 10. Aku segera mandi dan berganti baju yang sama persis dengan pakaianku kemarin. Belum bilang kah aku, jika aku memiliki tiga setel pakaian yang sama persis seperti kemarin? Aku turun ke bawah, dan benar saja. Tidak ada seorang pun di sana. Aku menuju ruang makan, dan di meja sudah tersaji sepiring pancake dengan surat kecil di bawah piringnya.

   Kubuka surat itu dan mulai membaca.

‘Tidurmu seperti beruang sedang hibernasi saja!
Bukanya aku tidak tega membangunkanmu atau apa, loh!
Aku hanya... Hanya malas saja membangunkanmu yang tidur sangat pulas itu. Ya sudah, lah!
Ini pancake buatan Canada, habiskanlah.
-England-’

   Bahkan menulis memo saja sifat tsunderenya terlihat. Aku pun mulai memakan sarapanku dengan tenang. Sambil memikirkan bagaimana caraku untuk memberikan petasan-petasan buatanku pada mereka bertiga. Tunggu, sepertinya ada yang kurang. Di buku yang kubaca kemarin, hadiah Valentine biasa dibungkus dengan kertas-kertas dan pita cantik, kan? Oh, bagus sekali. Aku lupa membelinya, dan kurasa aku harus pergi lagi hari ini.

   Selesai makan, aku pun mencuci piring dan bersiap keluar. Mengunci seluruh pintu dan jendela, dan memakai sepatu. Aku pun mulai berjalan pelan untuk pergi ke toko kertas terdekat. Petasan-petasan kemarin kubawa juga. Aku akan meminta penjaga toko untuk membungkuskanya untukku. Aku memang tak begitu bisa membungkus kotak, apalagi dengan pita.

   Hanya berjarak dua blok dari rumah England, dan toko yang kutuju pun sudah terlihat. Dan, wow. Lihat antrianya. Banyak sekali orang-orang yang mengantri untuk membungkus hadiah. Dan dari semua orang itu, kurasa hadiah milikku adalah yang paling tidak biasa. Hm, aku memang suka sesuatu yang antimainstream. Aku pun masuk ke antrian paling belakang. Tidak terlalu lama, jika kau menganggap dua jam mengantri hanya untuk membungkus hadiah adalah hal yang lumrah adanya. Akhirnya sampailah giliranku. Pria tua penjaga toko itu tersenyum ramah dan menanyai keperluanku. Aku bilang ingin membungkus hadiah, dan aku memilih kertas berwarna merah bermotif hati emas. Pita yang kupilih juga berwarna emas. Kenapa malah seperti perayaan tahun baru China, ya? Ah, yang penting aku sudah membungkus tiga petasan itu jadi satu kotak. Kuberikan uangku dan berterima kasih. Cukup sulit bagiku meraih permukaan meja tinggi itu. Aku pun berbalik dan mulai berjalan untuk pulang.

   Mulai memikirkan kata-kata yang singkat, padat, dan jelas untuk kukatakan pada ketiga personifikasi negara itu. Hn, aku tidak ingin mengulangi kata-kataku demi mempertahankan imej sebagai anak-muka-tembok. Mungkin sekedar kalimat singkat seperti “Selamat hari Valentine” terdengar bagus. Sambil terus berpikir, aku masih berjalan pelan. Sampai aku berbelok ke kiri, dan aku dikejutkan oleh seseorang yang tengah lari berlawanan arah denganku. Kedua mataku agak melebar saking kagetnya.
   Bruk!

   Orang itu pun menabrakku sampai aku terjatuh di trotoar. Aw, pantatku sakit. Kukernyitkan alis dan kuusap pantatku untuk mengurangi rasa sakitnya. Sepertinya orang yang barusan menabrakku juga melakukan hal yang sama. Dia bahkan mengaduh pelan. Setelah pulih dari sakitku, aku pun mencoba untuk berdiri. Aku meraih bungkusan yang tadi sempat terlepas dari pegangan.

   Kuperhatikan orang yang sudah berdiri dengan sendirinya itu. Anak laki-laki, dengan tinggi tubuh sama sepertiku. Kulitnya sangat pucat, kemungkinan besar orang Eropa. Rambutnya yang kelihatan halus berwarna pirang- bukan, mungkin lebih ke perak. Wajahnya kecil- ah, lancang sekali aku bicara seperti itu, saat aku sendiri juga demikian. Ia memakai kemeja putih, jaket coklat panjang, dan sepatu boot putih sampai menutupi betisnya.

   Anak itu sedang menepuk-nepuk celana saat aku memperhatikan dirinya. Dan saat ia mengangkat wajahnya utnuk menatapku, sekali lagi kedua mataku (sedikit) melebar.

   Kedua mata violet itu. Walau sekilas terlihat datar seperti milikku, tapi sebenarnya kedua mata itu terlihat tenang dan teduh. Bibirnya lurus, tak kurang dan  tak lebih semili pun. Entah kenapa aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari kedua mata jernihnya itu.

   .

   .

   “Kenapa?” Tanyanya.

   “... Kau tidak apa-apa?” Tanyaku balik.

   “Tidak apa-apa.” Jawabnya.

   .

   .

   Bagus. Saat ini aku tengah mengerutuki kemampuan bersosialisasiku yang buruk. Entah apa yang harus kukatakan di saat canggung seperti ini. Kenapa anak laki-laki ini sangat pendiam? Biasanya selalu orang lain yang mulai mengajakku bicara, dan aku pun hanya menanggapi mereka seadanya. Bahkan cukup dengan anggukkan atau gelengan saja jika perlu. Tapi kali ini... Aku harus mengatakan sesuatu agar anak ini tidak segera pergi. Ngomong-ngomong... Kenapa aku tidak ingin anak ini pergi? Padahal biasanya aku tidak betah bersama orang asing lama-lama. Ada yang aneh...

   “... Namaku Hong Kong- maksudku, Wang Jia Long. Salam kenal.” Ucapku agak keceplosan. Baik Yao sensei maupun pernah England bilang, bahwa keberadaan kami sebagai personifikasi adalah rahasia. Aku tidak mengerti kenapa hal itu harus dirahasiakan, tapi kuturuti saja. Kami para personifikasi negara memiliki umur yang panjang, sepanjang negara yang kami wakili. Mungkin hal itu juga yang menyebabkan banyak kontroversi dan pro-anti. Ah, aku bahkan tidak terlalu mengerti arti kata yang barusan itu.

   “Hong... Kong?” Tanyanya heran.

   “Aku Wang Jia Long, dari Hong Kong. Kau?” Tanyaku. (Niki-chan: Wang Jia Long dari Hong~Kong~? Hwahahaha!*dijejel petasan*)

   “Hn. Aku Emil Steilsson, dari Iceland.” Jawabnya.

   “Oh. Aku ingin minta maaf soal yang tadi.” Ucapku.

   “Hn. Tidak apa-apa. Salahku yang sudah berlari tadi.” Katanya.

   .

   .

   .

   Kebagusan yang berlipat ganda. Aku tidak tau harus bicara apa padanya. Yang kami lakukan saat ini hanya berdiri berhadapan di pinggir trotoar, diam, dan saling pandang. Seperti orang bodoh, dan sepertinya akulah penyebabnya. Aku lebih suka menghadapi ocehan tidak berguna America selama sejam penuh dari pada berada di situasi ini. Tapi... Aku masih ingin berada di sini lebih lama lagi bersamanya. Bagaimana ini?

   “... Apa kau sibuk?” Tanyaku. Dia menggeleng.

   “Kau... mau ngobrol denganku di sana?” Tanyaku sambil menunjuk sebuah bangku yang tak jauh dari kami berdua. Dia mengangguk, dan kami mulai berjalan menuju bangku yang kutunjuk tadi. Kami pun duduk di sana. Menatap jalanan yang tidak terlalu ramai di depan kami, sambil menikmati sejuknya berada di bawah perlindungan dedaunan pohon di belakang kami. Dan perlu dicatat sekali lagi, jika suasana heninglah yang menguasai. Aku pun mulai memutar otak untuk mendapat bahan perbincangan yang wajar. Obrolan apa yang biasa dibicarakan oleh orang dewasa? Tentang cuaca? Sepertinya cukup basi. Aku tidak ingin terdengar seperti orang tua.

   “Kau... Tau hari apa ini?” Tanyaku mencoba memulai obrolan. Dan langsung kubodoh-bodohkan diriku sendiri dalam hati. Hanya orang linglung yang akan menanyakan hari pada orang asing, kan?

   “Selasa.” Jawabnya.

   “Hn. Benar juga, sih.” Ucapku.

   “Tapi kakakku bilang ini hari Valentine.” Ucapnya lagi.

   “Hn. Kakakku juga bilang begitu.” Sahutku. Aku harus berkumur sebanyak sepuluh kali sesampainya di rumah karena menyebut kalimat laknat tadi.

   .

   .

   Keheningan kembali menyelimuti kami. Rasa canggung pun seakan tak berat hati untuk ikut serta. Merasa tak ada yang menarik dari jalanan di depanku, kutolehkan kepala ke samping kananku, tempat Emil duduk hanya berjarak beberapa senti dariku. Kuperhatikan dirinya. Tatapan matanya tidak benar-benar datar, karena aku masih merasakan adanya emosi di sana. Rambut keperakanya bergerak pelan mengikuti arah angin. Sepertinya sangat halus. Ingin rasanya aku mencoba mengelus surai di kepalanya itu. Tapi itu bukanlah hal yang sopan. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya, tapi aku bahkan tidak tau apa itu. Tapi aku yakin itu adalah hal yang penting.

   “Iceland?” Panggil seseorang.

   Aku dan Emil menolehkan kepala, dan melihat pria cantik tengah berdiri tak jauh dari kami. Jepit rambut itu... Oh, dia pria yang kutemui di perpustakaan kemarin.

   “Nor.” Jawab Emil.

   “Kau anak yang kemarin. Dia temanmu, Emil?” Tanya pria itu dengan suara lembutnya.

   Mendengar pertanyaan dari pria yang sepertinya kakaknya itu, Emil menolehkan kepalanya untuk menatapku. Kubalas tatapanya. Adu tatapan datar pun terjadi. Entah kenapa hatiku ketar-ketir menunggu jawaban darinya. Padahal itu bukan urusanku, kan? Mau dia menganggapku temanya ataupun tidak, itu bukan urusanku, kan? Setelah terdiam beberapa detik, akhirnya Emil membuka suaranya kembali.

   “Iya. Dia teman baruku. Namanya Wang Jia Long.” Jawabnya.

   Dapat kurasakan kedua pipiku memanas mendengar ucapanya. Kenapa? Entahlah, aku juga tidak tau. Mungkin aku senang karena dianggapnya teman walau baru bertemu beberapa menit lalu. Tapi... Kenapa aku senang, ya? Apa karena selama di Eropa beberapa bulan ini aku memang tak memiliki teman seumuran? Bukan hanya pipiku, tapi dadaku juga merasakan perasaan hangat yang membuatku nyaman. Apa ini?

   “Namaku Lukas Bondevik, kakak Emil. Emil, ayo pulang. Kau masih harus belajar sejarah di rumah.” Ajak pria itu.

   Emil pun berdiri dan memenuhi ajakan pria bernama Lukas itu. Aku ikut berdiri dan memandangnya.

   “Kau sudah akan pulang ke Iceland?” Tanyaku datar.

   Emil berbalik, dan ia menatapku. Ia pun mengangguk. Berarti dia memang harus pulang ke negara asalnya. Entah kenapa aku merasa tidak nyaman. Seperti... Ada rasa sesak di hatiku saat mendengar hal itu. Kenapa? Heh, sepertinya aku banyak memikirkan pertanyaan itu hari ini. Entahlah, aku ingin dia tinggal lebih lama dan mengobrol denganku. Walau banyak terdiam seperti tadi, tak apa. Aku hanya ingin bersamanya. Memandang wajahnya, dan mendengar suaranya. Tapi... Itu namanya egois, kan? Dan Yao sensei selalu mengatakan bahwa egois itu adalah hal yang buruk.

   Jadi, kutarik pergelangan tangan Emil untuk menghentikan pergerakanya. Ia menoleh, nampak kebingungan muncul di pancaran mata violet itu. Dan pancaran kebingungan itu makin menjadi, saat kututup jarak antara kami menggunakan bibirku. Ia pun sedikit melebarkan matanya dan terlihat kaget. Dua detik lamanya kututup mataku, sebelum aku membukanya lagi. Kujauhkan wajah agar bisa melihatnya lebih jelas. Kedua mata violetnya yang memikat itu masih sedikit melebar, sepertinya masih kaget akan perlakuanku.

   “Kau mau menerima ini?” Tanyaku sambil menyerahkan bungkusan di tanganku. Walau ragu, akhirnya Emil menerimanya.

   “Apa isinya?” Tanyanya.

   “Petasan. Selamat hari Valentine.” Ucapku singkat.

   “Petasan? Dan... Bukankah hadiah Valentine itu harus kau berikan pada orang yang kau sayangi?” Tanya Emil lagi.

   “Memang.” Jawabku sambil menatapnya mantap.

   “... Hn, terima kasih.” Ucapnya singkat, lalu ia berbalik dan berjalan ke arah kakaknya yang ternyata masih menunggu. Nampak pria cantik itu tercengang walau sudah tertutup wajah datarnya.

   Aku pun menatap punggung kedua orang itu dalam diam. Iceland... adalah negara yang sangat jauh nan dingin. Kurasa mustahil bagi kami untuk dapat bertemu lagi. Lagipula... Dia manusia biasa, kan? Makhluk mortal yang tak berumur panjang. Memang mustahil. Yah, setidaknya aku menemukan ‘sesuatu’ karena bertemu denganya hari ini. Sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Suatu perasaan sayang, yang tidak sebatas sayang terhadap keluargaku. Tetapi lebih ke arah... Ah, entahlah. Susah menemukan kata yang cocok untuk menggambarkan perasaanku ini. Yang pasti, aku merasa bahagia. Sangat.

    Setelah sosok mereka tak terlihat lagi di belokan, aku pun berbalik untuk pulang ke rumah England. Tapi sebuah suara yang menyerukan namaku membuatku urung melangkah, dan aku pun membalikkan badan. Nampak Emil yang berjarak agak jauh di sana melambaikan tanganya kecil ke arahku.

   “Kita pasti akan bertemu lagi, Hong Kong...” Ucapnya sembari tersenyum kecil. Setelah mengatakan kalimat itu, ia kembali berbalik dan berlari menjauh.

   Aku tertegun mendengarnya. Emil barusan memanggilku apa? Hong Kong? Saat kakaknya memanggil dirinya “Iceland” tadi... kukira aku hanya salah dengar. Tapi ternyata Emil memang seorang...

   “Pufft!” Aku berusaha menahan tawa yang sudah ada di ujung bibir. Hal yang susah untuk dilakukan, dengan segala rasa geli yang ada di dalam perutku. Setelah lebih tenang, aku pun menghela nafas.

   “Hah... Ya sudah, lah...” Gumamku sambil tersenyum kecil. Aku pun meneruskan perjalanan pulangku.

   -Skip-

   Malam ini aku, England, America, dan Canada makan malam dengan lebih tenang dari hari-hari sebelumnya. Tidak ada pertengkaran ataupun kata-kata kasar yang terlontar di atas meja makan seperti biasanya, sehingga malam ini terasa agak sepi. Makanan pencuci mulutnya pun seloyang pai coklat yang England beli di toko sebelum pulang tadi. Demi memeriahkan Valentine katanya. Tak apa, aku memang suka coklat. Jika dalam mood baik, rasanya segala makanan memang akan terasa lebih enak. Teh yang England buat pun terasa lebih manis walau tidak kutambahkan sesendok gula pun.

   Tapi... Perasaanku saja atau memang ketiga orang itu memandangiku dengan tatapan aneh, ya? Padahal kurasa tidak ada yang aneh dariku. Aku sudah mandi. Rambutku kusisir lebih rapi dari biasanya, dan aku memakai kemeja merah juga celana hitam panjang biasa. Aku bahkan sudah menerapkan tiap ‘sopan santun di meja makan’ yang England ajarkan padaku. 

   “Kenapa?” Tanyaku singkat.

   “Eh? Eum... Ano....” Canada tergagap. Memangnya kenapa dia? Aku tau jika dia pemalu dan suaranya pun tak pernah berhasil melampaui batas senormalnya orang lain bicara, tapi sepertinya ia jarang tergagap seperti itu. Kuangkat kedua alisku sebagai pengganti pertanyaan ‘ada apa?’.

   “Hong Kong... Sadarkah dirimu bahwa kau terus menerus tersenyum sepanjang acara makan malam ini?!” Jerit America tak percaya. Oh, jadi karena itu? Kukira ada hal gawat lain seperti... Sapi yang mendadak melahirkan kucing, misalnya?

   “Oh... iya.” Jawabku singkat.

   “Err... Apa yang terjadi padamu, Hong Kong?”

   Mendengar pertanyaan dari England, aku balas menatapnya. (Sedikit) Kulebarkan senyumku, dan hal itu malah membuat England sepertinya merinding. Kenapa? Padahal orang lain seharusnya merespon senyum dengan senyum juga, kan? Tapi dari pada melihat wajah kebingungan England terus, lebih baik aku menjawab keherananya.

   “England, aku... Sudah tau arti hari Valentine yang sebenarnya.” Jawabku sambil terus tersenyum kecil.

   “Be-benarkah? A-apa itu?...” Tanyanya sedikit terbata.

   “Valentine itu... Iceland...” Jawabku mantap sambil memandang kedua bola mata emeraldnya lurus.

   .

   .

   .

   “Hah?” Heran ketiga personifikasi negara itu bersamaan.

   -End-

   Yakk! Dan fic ini berakhir dengan gaje-nya para readers sekalian! Gimana, gimana, gimana? Maunya sih aku kasih Omake, tapi males, ah (*ditimpuk readers*). Dan karena males bikin omake itu, malah endingnya gaje n’ gak klimaks gini. Hiks... Ada yang berniat menyumbang review pada Author malang ini? Nanti aku kasih peluk satu-satu, deh... See you minna... No flame please!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar