Hola
minna-san! Niki-chan kembali setelah hibernasi selama beberapa bulan! Fic ini
aku buat untuk memeriahkan hari Valentine. Ini fanfic pertama aku di fandom
Hetalia yang aku publish. Sebenernya bukan fic Hetalia yang pertama kutulis sih,
tapi yang lain masih dalam proses. Karena Valentine undah deket dan tiba-tiba
dapet wangsit buat bikin ginian, ya nulis yang ada di pikiran aja, dulu.
Sebenernya
guru agamaku ngelarang buat ngerayain, ngikutin, ato apalah, yang berhubungan
ama hari Valentine... Tapi cuek aja, lah! Lagian aku juga gak ngerayain, kok.
Pacar aja gak pernah punya! Ya udah. Enjoy, ya!
Author:
Nikita Yuana a.k.a
Niki-chan!
Fandom: Axis Power: Hetalia
Genre: Family, Romance
Rated: T
Main
chara: Hong Kong. (Niki-chan: Kyaaaa! Hong Koooong! Wajah tembokmu mengalihkan
duniakuuu! *diledakin pake petasan*)
Warning: OOC, gaje, shonen-ai, PWP. Cerita gaje ini bersetting tempat dan
waktu gaje. Tapi yang pasti Hong Kong udah ikut sama si alis tebel
(*dicekokin scone*). Don’t
like, don’t read!
Disclaimer: Hetalia yang yahudnya minta ampun itu punya Om Hedikaz Himaruya!
Valentine
Day... What Is It?
“Hari Valentine...
Apa itu?”
Ketiga pasang mata
dengan warna yang berbeda menuju ke arahku. Mereka memandangku seakan
pertanyaan sederhanaku tadi adalah hal teraneh di dunia ini. Seorang dari
mereka bahkan lupa bagaimana caranya menutup mulut dengan rapat. Setelah mereka bertiga puas tertegun selama
beberapa detik, barulah seorang dari mereka yang tampak paling dewasa angkat
bicara.
“Hong Kong, kau
tidak tau apa itu hari Valentine?” Tanya pria berambut pirang pasir bermata
emerald itu sambil menatapku. Memangnya hari apa itu? Apakah sangat penting
hingga mereka bertiga membicarakanya dengan senyum terlukis sepanjang waktu? Bahkan
lebih penting dari hari Minggu? Banyak yang ingin kutanyakan, tapi aku menelan
satu persatu pertanyaan itu kembali ke tenggorokanku. Aku pun hanya menggeleng
untuk menjawab pertanyaanya.
Buk!
Salah satu dari
mereka, remaja bermata biru yang memiliki cowlick
aneh di bagian depan kepalanya menepuk pundakku keras. Hampir saja aku jatuh tersungkur,
jika seorang remaja lagi yang suka terlihat memeluk seekor beruang kutub tidak
menahan tubuh kecilku.
“Kau dengar itu Iggy?
Mattie? Hong ini bagaimana, masa tidak tau apa itu hari Valentine? Ahahaha!” Gelak
remaja ber-cowlick tadi.
“Alfred, kau tidak
boleh kasar begitu...” Ucap remaja satunya (yang sangat mirip denganya) lebih seperti
bisikkan. Aku heran dengan orang ini. Mataku yang salah, atau memang remaja
personifikasi Canada itu agak transparan, ya? Tunggu, memangnya ada negara
bernama Canada?
“Iya Alfred.
Selama ini Hong Kong kan selalu tinggal bersama China, mungkin di Asia tidak
ada tradisi hari Valentine seperti kita.” Ucap si Pria. Pria itu menatapku
lagi, dan aku pun membalasnya dengan wajah datarku.
Lumrahnya, jika
seseorang bicara dengan orang yang lain, pasti akan langsung menatap matanya
bukan? Apalagi jika mata orang itu juling. Seperti ada daya tarik sendiri di tiap pasang
mata manusia agar seseorang selalu menatapnya. Iya, kan? Tapi beda dengan pria personifikasi
negara United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland ini. Jika seseorang
bicara padanya, pandangan yang tertuju untuk pertama kali bukanlah pada kedua
mata emeraldnya, melainkan pada alisnya yang berlapis-lapis itu. Benar, alis
keramatnya seakan memiliki daya tarik sendiri untuk terus dipandangi.
England (begitulah
aku biasa memanggilnya) berjongkok untuk menyamakan tingginya denganku.
“Valentine, adalah
hari kasih sayang, di mana kita bisa memberi hadiah sebagai ungkapan rasa
sayang kita pada seseorang. Yah, itu versi singkatnya, sih.” Jelasnya sambil
menyungging senyum.
Aku mengangguk
mengerti tanpa mengubah ekspresiku. “Apa... Aku juga harus mengikuti tradisi
itu karena sekarang aku tinggal di sini?” Tanyaku.
“Hmm... Aku tidak
bisa mengatakan ‘harus’. Kami merayakan hari Valentine tanpa paksaan, karena
keinginan kami sendiri untuk mengungkapkan rasa sayang pada seseorang. Baik teman,
keluarga, ataupun orang lain yang kau sayangi. Jadi, terserahmu ingin mengikuti
tradisi itu atau tidak. Tidak ada paksaan, kok.” Jawabnya. Sekali lagi aku
mengangguk mengerti. Karena malam sudah larut, England pun menyuruhku ke kamar
untuk pergi tidur. Aku menurutinya walau sebenarnya tidak terlalu mengantuk.
Sampai di dalam
kamar, aku pun berganti baju dengan piyama merah maroon (warna kesukaanku),
cuci muka, dan menggosok gigi. Aku mulai
menaiki tempat tidur dan berbaring sambil memeluk boneka panda pemberian Yao sensei
dulu. Aku pun kembali mengingat perkataan England tentang hari Valentine tadi.
Kalau tidak salah, America juga bilang bahwa hari kasih sayang itu jatuh pada
tanggal 14 Februari, berarti tinggal dua hari lagi. Agak heran juga. Dari
sekian banyak tanggal di tiap tahunya... Kenapa 14 Februari? Dan kalau memang
hari kasih sayang... Kenapa tidak diadakan lebih dari sekali dalam setahun?
Bukankah menunjukkan bahwa kita menyayangi seseorang itu tidak hanya dibatasi
oleh tanggal? Ah, entahlah. Aku masih tidak mengerti cara berpikir orang-orang
Eropa ini.
Apa sebaiknya aku
juga ikut merayakan tradisi itu, ya? Walaupun aku masih tidak mengerti, tapi
bukan berarti aku tidak bisa memberi hadiah pada orang yang kusayang, kan? Tapi
masalahnya... Siapa yang akan kuberi hadiah? Dan hadiah apa yang biasa
diberikan saat hari Valentine? Ah, mungkin bisa kukesampingkan dulu masalah
pemilihan hadiahnya. Sekarang masalahnya, siapa yang harus kuberi hadiah. England
bilang aku bisa memberi pada seseorang yang kusayangi. Siapa? Aku tau aku menyayangi
Yao sensei. Pria personifikasi China itu yang sudah merawatku, memberiku
bahasa, mengajariku baca-tulis, memberi figur ayah, ibu, dan kakak sekaligus.
Aku juga menyayangi saudara-saudaraku di Asia Timur. Tapi kurasa jarak tempat
kami kini sangatlah jauh. Dan anak kecil sepertiku tak mungkin pulang-pergi ke Eropa-Asia
sendirian.
Lalu siapa?
England? Apa aku harus memberi hadiah kepada seseorang yang telah memisahkan
aku dengan keluargaku? Yah, aku tidak begitu membencinya karena hal itu.
Bagaimanapun ia juga yang telah memberiku banyak ilmu baru dan hal-hal modern
beberapa bulan ini, sesuatu yang tak kudapat dari Yao sensei. Dan tinggalnya
aku di rumah ini tidak sepenuhnya salah England, Yao sensei juga salah. Ia saja yang
tidak mau menjadi koloni England, sehingga menyerahkanku begitu saja. Aku tetap
harus berterima kasih pada pria beralis tebal
itu. Tapi kurasa rasa terima kasihku padanya tidak sampai pada kata ‘sayang’.
Lagipula, kurasa
penjelasan England tentang hari Valentine tadi kurang jelas di pandanganku. Sekedar
hari kasih sayang di mana orang-orang saling bertukar hadiah? Benar hanya itu?
Dari mana asal-usulnya? Bagaimana sejarahnya? Apa ia yakin itu bukan hanya
cerita karangan anak alay yang tengah dilanda asmara?
Uh, aku sadar jika
memang ada banyak pertanyaan di balik wajah datarku. Akupun agak terganggu akan
hal kecil yang kerap kali menjadi pikiran itu. Kurasa aku harus ke perpustakaan
kota demi mencari jawabanya besok.
Perlahan rasa
kantuk mendera, dan dan aku pun mulai memejam. Membiarkan kedua kelereng coklat
tuaku tertutup oleh kelopak mata. Dan sedikit demi sedikit, kesadaranku pun
hilang ditelan mimpi...
-
-
-
-
-
-
-Next morning-
Pagi ini aku
bangun lebih awal dari biasanya. Kukerjapkan kedua mataku beberapa kali demi
mengumpulkan nyawa yang entah tercecer di mana. Setelah sadar sepenuhnya, aku
pun mengambil posisi duduk di tempat tidurku. Aku tidak menguap, hampir tidak
pernah. Entahlah, sepertinya aku memang tidak dilahirkan untuk hal itu. Terlalu
OOC, kalau kata Author.
Kurenggangkan
kedua tangan dan mengucek mata pelan. Menuju kamar mandi demi memenuhi panggilan
alam, sekaligus mandi dan berganti pakaian. Aku memilih memakai pakaian
oriental hari ini. Kenapa? Sedang ingin saja. Aku memang membawa beberapa
pakaian lamaku sebelum pindah ke sini. Atasan merah maroon berlengan panjang
sampai melewati tangan dan celana hitam longgar jadi pilihan. Aku juga
melilitkan kain kuning panjang sebagai ikat pinggang. Kusisir rambut hitam
kecoklatanku seadanya. Pria Inggris beralis tebal satu itu sangat suka dengan kerapian rambut ‘adik-adik’-nya. Padahal
rambutnya sendiri tak pernah (atau memang tidak bisa) disisir rapi. Tapi
sepertinya, England sudah menyerah dengan cowlick
milik America yang tetap mencuat walau diberi gel rambut sekalipun.
Aku pun turun ke
bawah. Di ruang makan, England dan Canada sudah menunggu. Mereka berdua
tersenyum untuk menyambutku, dan hanya kubalas dengan anggukan singkat. England
tidak mempermasalahkan hal itu lagi. Awalnya, ia kira aku bersikap dingin
padanya karena kau membencinya dulu. Tapi seiring berjalanya waktu ia mengerti,
jika memang beginilah sifatku. Yang bagaimana? Ya yang begini ini.
Canada kini sedang
memasak pancake, sedangkan England tengah menikmati tehnya. Memang sudah
rutinitas Canada untuk membuat sarapan, dan England yang menyeduh teh utuk
semua penghuni rumah ini. Aku tidak pernah (dan tidak ingin) sarapan dengan
masakan England. Tidak, aku tidak ingin mati di pagi hari, tidak terima kasih.
Terakhir kuingat aku memakan masakanya adalah scone yang ia suguhkan sebagai
hidangan selamat datang bagiku ke rumahnya. Saat itu aku tidak menanggkap
sinyal dari America dan Canada untuk jangan memakanya, dan kecelakaan itu pun
terjadi. Aku dilarikan ke rumah sakit, tepat di hari pertama aku menginjakkan
kakiku ke daratan Eropa. Itu adalah hal berharga sebagai pelajaran hidup bagiku.
“G’Morning! HERO berhasil bangun pagi
kali ini! Hwahahaha!” Seru America sambil memeluk England dari belakang,
membuat pria itu kaget dan menyemburkan tehnya.
“Bloody git! Jangan mengagetkanku!” Umpat
England kelihatan emosi dan hanya ditanggapi juluran lidah oleh America.
Selain
pertengkaran dan adu mulut kecil antara England dan America, acara sarapan pagi
ini cukup lancar. Entah kenapa kau jadi ingat Japan, kakak keduaku yang dengan
bangga menyebut bahwa dirinya adalah seorang 'otaku'. Dia pernah beberapa kali
melihat England dan America bertengkar, dan Japan bilang mereka akan menjadi
pairing masa depan. Aku tidak begitu mengerti. Tapi yang pasti, sepasang mata
hitamnya nampak berbinar saat ia mulai membicarakan soal ‘seme’ dan ‘uke’. Saat
aku tanya apa arti dari kedua kata itu, Yao sensei keburu menjitak kepalanya sebelum
dia menjelaskan padaku.
“Hong Kong, apa
ada tempat yang ingin kau kunjungi hari ini? Sudah lama kau tidak pergi ke
luar, kan?” Tanya England. Aku mengangguk.
“Aku ingin ke perpustakaan
kota.” Jawabku sambil melahap sepotong pancake dengan tuangan sirup maple.
“Perpustakaan
kota? Tapi aku tidak bisa mengantarkanmu karena harus bekerja. Bagaimana dengan
kalian, America? Canada?” Tanya England pada dua orang yang sangat mirip itu.
“Apa? Tapi HERO
harus membeli film horror tebaru hari ini. Edisi terbatas loh! Penjualnya kemarin
bilang jika film itu adalah film terseram yang ia miliki! Sayang uangku habis
kemarin. Nanti ikut nonton denganku ya, Iggy?” Kata America tidak terlalu
nyambung.
“A-aku tidak bisa
hari ini. Aku harus pergi ke suatu tempat. Kalau besok, mungkin aku bisa
menemanimu, Hong...” Jawab Canada lirih seperti biasa.
Aku menggeleng. “Tidak
perlu diantar. Perpustakaanya kan tidak terlalu jauh.” Ucapku.
Alis tebal England berkerut, tanda bahwa ia
sedang berpikir. Entah kenapa aku membayangkan ada dua ekor ulat bulu yang
tengah mengobrol dengan akrabnya di atas dahi seseorang. Pikiran yang kurang
ajar memang, salahkan saja imajinasiku ini. Tapi tidak akan ada masalah selama
aku tidak mengungkapkan imajinasi berlebihanku itu.
“Kau yakin akan
pergi sendiri?” Aku mengangguk untuk menjawab pertanyaan England.
“Kalau begitu
berhati-hetilah saat jalan. Lihat
kanan-kiri jika menyebrang, jangan mau ikut ajakan orang asing. Kunci semua
jendela dan pintu. Istirahatlah jika kau sudah terlalu lelah untuk jalan kaki.
Jangan lama-lama keluar rumahnya,...” Dan masih banyak lagi petuah-petuah
tentang keselamatan di luar rumah yang England tuturkan padaku.
Padahal aku sudah
tau semua itu. Walaupun tubuhku kecil, tapi aku tetaplah personifikasi dari sebuah
daerah istimewa. Aku sudah cukup mengetahui tentang hal-hal kecil seperti itu.
Paling yang masih perlu kupelajari adalah sejarah dunia, masalah ekonomi,
sosial, budaya, politik, dan hal-hal yang berhubungan dengan masalah kenegaraan
lainya. Tapi aku memang lumayan menyukai perhatian yang England tujukan padaku.
“... Dan jangan
buang sampah sembarangan...” Dua jam berlalu, dan petuahnya masih belum
berakhir jika saja Canada tidak memperingatkanya.
“Eum... England,
ini sudah jam sepuluh...” Lirihnya. England melirik jam tanganya, dan ia
langsung kelabakan seperti orang kebakaran jenggot. Lalu England berlari menuju pintu keluar setelah meraih
tasnya.
“Pokoknya
hati-hati, ya!” Ucapnya sebelum menutup pintu depan.
America sudah
pergi sejak setengah jam lalu. Katanya ia harus antri terlebih dahulu jika
ingin membeli film horror terbaru itu. Aku pernah diajaknya menonton salah satu
koleksi film horrornya. Walau ekspresiku tidak berubah, tetap saja tubuhku
gemetaran. Tapi masih mending sih, daripada dirinya yang teriak-teriak histeris.
Padahal jika takut, sebenarnya tidak perlu menonton, kan? Sekarang, aku dan
Canada tinggal berdua. Ralat, bertiga bersama beruangnya yang bernama Kumajiro.
“Aku akan
mengantarkanmu ya, Hong Kong.” Ucapnya.
“Bukankah kau ada
urusan?” Tanyaku.
“Hm, tapi aku
ingin mengantarmu dulu. Nanti baru kau pulang sendirian. Bagaimana?” Aku
mengangguk menanggapi tawaranya.
Kami berdua pun
keluar rumah setelah mengunci semua pintu dan jendela. Tidak, kami tidak
menggunakan gembok dan memasang paku pada pintunya seperti kata England, kok. Hanya
mengunci. Canada menggandengku dengan tangan kiri, sementara tangan kananya
menggendong Kumajiro kesayanganya. Jarak antara rumah England dan perpustakaan
kota tidak terlalu jauh, hanya sekitar tiga blok. Sesampainya di depan
perpustakaan yang besar itu, Canada pamit sambil melambaikan tanganya padaku.
Aku hanya membalasnya dengan anggukan kecil.
Aku pun memasuki
gedung perpustakaan. Keadaan perpustakaan itu sangat sepi, seperti bagaimana
seharusnya. Aku disambut disapa oleh seorang penjaga perpustakaan itu dengan
ramah. Penjaga perpustakaan berkaca mata itu menanyai apa keperluanku datang di
sini. Tunggu. Ini perpustakaan, kan? Apa lagi yang bisa dilakukan di tempat
ini? Karaoke? Kalau begitu aku salah tempat.
Ingin rasanya aku
mengeluarkan kata-kata yang terngiang di kepalaku itu, tapi kuurungkan. Mungkin
besok, jika tubuhku sudah tumbuh lebih besar lagi. Maka aku sudah terlihat
pantas untuk mengatakanya.
“Aku mencari buku.”
Jawabku singkat.
“Buku seperti apa?”
Tanya penjaga itu.
Jika aku
Indonesia, anak perempuan yang kini tengah hidup sebagai pelayan di rumah
Netherland, mungkin aku akan menjawab “Kepo banget sih. Situ oke? Situ artis?”
begitu. Tapi tentu aku tidak mengatakanya.
“Buku tentang
informasi Valentine.” Jawabku lebih spesifik.
Setelah tertawa
kecil tanpa kuketahui sebabnya, Panjaga perpustakaan itu pun menawariku
untuk mengantar, dan aku mengiyakan. Kami menuju lantai dua, di mana hanya ada
beberapa orang yang sedang membaca di sana. Dia menunjukkan bufet tempat aku
bisa menemukan buku yang kucari, dan aku berterima kasih singkat. Penjaga
perpustakaan itu pun meninggalkanku. Mulai kupandangi bufet yang penuh dengan
buku-buku baik tua ataupun baru itu. Kuputuskan untuk mengambil buku berjudul “Valentine’s
Tragedy” di tempat yang tidak terlalu tinggi. Mulai kubuka dan kubalik-balik,
aku pun membacanya seklilas. Oh, ternyata buku sejarah bagaimana terjadinya
Valentine. Buku yang kubutuhkan, jika saja huruf-huruf super kecil yang nampak tanpa
spasi di mataku itu tidak membuatku pusing.
Kukembalikan buku
itu ke tempat asalnya, dan mulai melihat-lihat judul yang lain. Pandangan
mataku tertuju pada sebuah buku tidak terlalu tebal, yang dapat kulihat
berjudul “What Is Valentine?”. Hn, judul yang tepat seperti pertanyaan di
kepalaku. Namun sayang, lokasinya itu. Ada di rak nomor dua dari atas. Mungkin
sekitar dua meter dari lantai. Bagus, selamat tinggal ilmu pengetahuan. Maaf,
tapi kau terlalu mustahil untuk kuraih. Aku sangat ingin, tapi aku tak mampu
untuk menggapaimu. Entah kenapa aku merasa seperti anak miskin yang sangat
ingin sekolah tapi tak punya biaya. Sekali lagi, tunggu. Apa yang kini sedang
kubicarakan? Ah, sudahlah.
Tak menyerah,
kupandangi buku itu dengan tatapan datarku. Aku sendiri juga heran. Apa
hubunganya mengambil buku dan memandanginya, ya? Entahlah. Kata Author, akan
terlalu OOC jika aku melompat-lompat untuk meraihnya. Aku juga tidak ingin,
terlalu menguras tenaga. Lagipula aku tau jika tinggiku tidak akan sampai walau
aku sudah menaiki kursi dan melompat sekalipun. Jadi, kulanjutkan saja kegiatan
menatap buku itu dari bawah. Siapa tau nanti dia jatuh sendiri, kan? Mustahil?
Ya, aku juga tau. Aku hanya melakukan apa yang kubisa.
Saat sedang fokus
menatap buku itu, tiba-tiba ada sebuah tangan ramping yang meraihnya. Uh tidak,
apa aku didahului? Kutelusuri asal tangan itu, dan pandanganku bertubrukkan
dengan sepasang mata berwarna biru keunguan dengan tatapan datar.
“Kau ingin
mengambil buku ini?” Tanyanya. Aku mengangguk sebagai jawaban. Orang cantik
yang ternyata seorang pria itu menyerahkan buku yang dari tadi kupandangi
kepadaku. Kuterima dengan heran, walau tak nampak di wajahku. Setelah tersadar
hari keheran, aku pun angkat bicara.
“Terima kasih.”
Ucapku sambil sedikit membungkuk. Orang itu hanya mengangguk dan berbalik untuk
melenggang pergi.
.
.
Tunggu, siapa
orang itu? Ah, sudahlah. Lagipula England kan melarangku untuk terlalu dekat dengan
orang asing. Kuputuskan untuk membaca buku yang ada di tanganku setelah menarik
kursi perpustakaan dan duduk dengan tenang. Kubaca halaman pertama, isinya
hanya basa-basi dari sang penulis. Karena kupikir halaman-halaman selanjutnya juga
seperti itu, aku pun melewati beberapa halaman dan membaca bagian tengahnya.
[Makna dibalik nama valentine day's
Tanggal 14
februari merupakan hari perayaan terhadap dihukum matinya seorang pahlawan kristen
yaitu: Santo Valentine, kejadian ini terjadi tepat pada tanggal 14 februari 270
M.
Valentine day's adalah sebuah dimana orang-orang
yang sedang dilanda cinta, saling mengirimkan pesan cinta dan hadiah-hadiah
antara satu sama lain, yaitu hari dimana santo valentine mati sebagai seorang
pahlawan yang teguh mempertahankan keyakinannya.
Valentine yang biasa dikatakan itu adalah seorang
utusan dari rhaetia dan dimuliakan di Passau sebagai
uskup pertama.]
Hm... Baiklah,
jadi Valentine itu nama seseorang? Dan orang-orang menebar kasih sayang dan
suka cita karena kematianya? Agak ironis, ya? Karena tidak tertulis lebih rinci
(dan aku juga tidak membutuhkanya), aku kembali membaca halaman lain.
[Hadiah pada hari
Valentine
Hadiah yang umum
diberikan pada hari Valentine adalah coklat, boneka, ataupun suatu masakan. Tapi
ada juga yang memberi hadiah tak biasa, seperti pakaian, barang-barang mewah,
atau bahkan petasan. Orang yang kita sayangi akan lebih bahagia, jika hadiah
yang kita berikan adalah buatan dari tangan kita sendiri. ]
Kedua alis (agak)
tebalku terangkat saat membaca kata “petasan”. Ya, entah kenapa alisku menjadi (sedikit)
lebih tebal dari sebelumnya semenjak aku meninggalkan Asia. Tapi tenang saja,
tidak sampai semengerikan milik England, kok. Apa aku tertular kutukan dari pria
itu? Kudengar dari America, England memiliki tiga kakak laki-laki, dan semuanya
beralis tebal. Tapi miliknya-lah yang paling membahana. OOT kah? Oke, kembali
ke masalah petasan.
Kuakui bahwa aku
sangat menyukai benda berisik satu itu. Aku menyukai warna merah kertas
pelapisnya, aku menyukai pemandangan sumbu yang tersulut dan menciptakan percikan-percikan
api itu. Aku menyukai detik-detik menegangkan saat menunggu sumbunya habis, dan
aku paling menyukai ledakan kecil yang memekakan telinga dengan suara
nyaringnya. Aku menikmati kepulan aroma asap putih yang terkadang membuat sesak
nafas, tapi memberi kepuasan tersendiri itu. Aku juga menikmati saat-saat harus
menyapu sisa-sisa kertas yang bertebaran di tanah sebagai bentuk tanggung
jawab. Intinya, aku menyukai semua bagian dari petasan, termasuk proses
perakitanya.
Sudah kuputuskan.
Kututup buku itu tanpa mengembalikan ke tempatnya semula. Memangnya aku sampai
apa? Aku harus minta maaf pada sang penjaga perpustakaan ini. Saat bertemu
denganya di depan, aku pun berterima kasih singkat dan pergi dari sana. Ah, aku
lupa memberi tahunya tentang buku yang belum kukembalikan tadi. Setidaknya, aku
mencoba lupa. Aku kembali ke rumah England, dan mengambil kertas juga pulpen.
Aku mulai mencatat berbagai keperluan bahan yang telah kuingat di luar kepala
sebagai bahan-bahan pembuat petasan, dan aku pun kembali keluar rumah. Tak lupa
mengunci pintu depan.
Aku pun mulai
berjalan di trotoar untuk menuju wilayah pecinan, di mana aku bisa membeli bahan-bahan
yang kuperlukan. Walaupun pecinan ada hampir di seluruh negara di dunia, tapi
aku ragu ada Yao sensei ada di sana. Ia kan juga harus mengurusi negara, bukan
hanya berdagang. Aku jadi agak rindu saat-saat berdagang denganya. Walaupun
tanpa senyum khas sales dan tidak teriak-teriak saat menjajakan dagangan, tapi aku
cukup lihai dalam menarik pelanggan. Hanya dengan memasang wajah datar harianku
dan mata yang kubuat agak berkaca-kaca, orang-orang pasti mau beli apapun yang kujual.
Yao sensei bilang, segala kelebihan kita harus dimanfaatkan. Jadi aku
memanfaatkan keimutan wajahku. Baik, baik, aku memang sedikit narsis.
Setelah berjalan
agak jauh, akhirnya aku sampai di pecinan. Suasananya sangat ramai di sana.
Baik orang Tiong hoa maupun orang Eropa ada. Aku agak kesulitan untuk berjalan
karena didesak-desak orang. Tubuh kecilku membuatku mudah terombang-ambing di
lautan manusia. Tapi tak apa lah. Yang penting aku sudah sampai ke tujuan
dengan selamat. Di toko petasan, aku membeli banyak bahan. Kertas-kertas
pelapis, lem, tali sumbu, mesiu, dan beberapa bubuk lain. Dari mana aku dapat
uang? Tentu saja England yang memberiku tiap minggunya. Ia selalu pulang sore
ataupun larut, jadi ia memberi uang mingguan pada aku, America, dan Canada untuk
membeli bahan makanan ataupun makan di luar. Kupandangi puas bungkusan di tanganku,
dan aku mulai berjalan pulang.
Aku berjalan ke
arah matahari yang kini nyaris terbenam. Sinar jingga kemerahanya menyelimuti
tubuh kecilku yang tengah berjalan pelan. Bukan sesuatu yang spesial bagiku,
tapi aku juga tidak membencinya. Maka kunikmati saja keindahan cahaya itu dalam
diam, sambil sesekali menggigit bak pao daging yang barusan kubeli.
Sesampainya di
rumah, kepulanganku disambut oleh rentetan pertanyaan dari England. Pergi ke
mana, dengan siapa, semalam berbuat apa, -eh, malah seperti lagu galau milik
Indonesia, ya? Padahal aku hanya pergi dari siang sampai sore, kan? Dan sifat
tsundere England yang muncul makin membuatku ingin segera meledakan petasan ke
alis tebalnya lagi. Iya, lagi. Dulu
saat hari-hari pertama aku tinggal di rumahnya, kulihat dia yang tengah tidur
siang di sofa. Dan sial baginya, karena aku sedang mengeluarkan petasan yang
kubawa dari rumah lamaku. Aku mengendap-endap, dan mulai menyulut sumbu petasan
tepat di atas wajahnya dalam diam. Jika saja Canada tidak menarikku saat itu,
pasti alis bak ulat bulu yang menggelikan milik England sudah tak berbentuk
lagi. Ah, cerita lama. Indahnya...
“Bu-bukanya aku
khawatir padamu atau apa, ya! Tapi kalau kau kenapa-kenapa, pasti China akan
membunuhku tau. Bu-bukan karena aku yang mengkhawatirkanmu!” Serunya panik.
“Hn, maafkan aku.”
Ucapku singkat sambil sedikit membungkukan badan.
Setelah itu, kami
makan malam dengan masakan England (dalam pengawasan Canada). Walau masih
terasa agak aneh, tapi setidaknya bisa dimakan. Warnanya juga seperti makanan
pada umumnya. Tidak ada unsur warna ungu dan hitam di masakanya kali ini. Aku pamit untuk pergi ke kamarku setelah acara makan malam. Bukan
ingin tidur, tapi aku ingin segera merakit bahan-bahan petasan yang kubeli
tadi. Di atas meja belajar, aku pun mulai mengeluarkan satu persatu bahan dari
kantong plastik. Tanganku dengan lincah mulai meracik beberapa bubuk hitam
berbeda dan memasukkanya ke dalam kertas yang sudah kulinting sebesar ibu jari
orang dewasa. Kurangkai menjadi satu beberapa tabung berwarna merah itu denbgan
tali, dan mengulanginya sebanyak tiga kali. Dan jadilah... Petasan Ala Hong
Kong yang siap meledakkan alismu...
-Skip-
Walaupun kantuk
masih terasa, tapi kubuka mataku perlahan dan- oh tidak, aku bangun kesiangan. Jam
kecil di meja samping tempat tidurku sudah menunjukkan pukul 10. Aku segera
mandi dan berganti baju yang sama persis dengan pakaianku kemarin. Belum bilang
kah aku, jika aku memiliki tiga setel pakaian yang sama persis seperti kemarin?
Aku turun ke bawah, dan benar saja. Tidak ada seorang pun di sana. Aku menuju
ruang makan, dan di meja sudah tersaji sepiring pancake dengan surat kecil di
bawah piringnya.
Kubuka surat itu
dan mulai membaca.
‘Tidurmu
seperti beruang sedang hibernasi saja!
Bukanya
aku tidak tega membangunkanmu atau apa, loh!
Aku
hanya... Hanya malas saja membangunkanmu yang tidur sangat pulas itu. Ya sudah,
lah!
Ini
pancake buatan Canada, habiskanlah.
-England-’
Bahkan menulis
memo saja sifat tsunderenya terlihat. Aku pun mulai memakan sarapanku dengan
tenang. Sambil memikirkan bagaimana caraku untuk memberikan petasan-petasan
buatanku pada mereka bertiga. Tunggu, sepertinya ada yang kurang. Di buku yang
kubaca kemarin, hadiah Valentine biasa dibungkus dengan kertas-kertas dan pita
cantik, kan? Oh, bagus sekali. Aku lupa membelinya, dan kurasa aku harus pergi
lagi hari ini.
Selesai makan, aku
pun mencuci piring dan bersiap keluar. Mengunci seluruh pintu dan jendela, dan
memakai sepatu. Aku pun mulai berjalan pelan untuk pergi ke toko kertas
terdekat. Petasan-petasan kemarin kubawa juga. Aku akan meminta penjaga toko
untuk membungkuskanya untukku. Aku memang tak begitu bisa membungkus kotak,
apalagi dengan pita.
Hanya berjarak dua
blok dari rumah England, dan toko yang kutuju pun sudah terlihat. Dan, wow.
Lihat antrianya. Banyak sekali orang-orang yang mengantri untuk membungkus
hadiah. Dan dari semua orang itu, kurasa hadiah milikku adalah yang paling
tidak biasa. Hm, aku memang suka sesuatu yang antimainstream. Aku pun masuk ke antrian paling belakang. Tidak
terlalu lama, jika kau menganggap dua jam mengantri hanya untuk membungkus
hadiah adalah hal yang lumrah adanya. Akhirnya sampailah giliranku. Pria tua
penjaga toko itu tersenyum ramah dan menanyai keperluanku. Aku bilang ingin
membungkus hadiah, dan aku memilih kertas berwarna merah bermotif hati emas.
Pita yang kupilih juga berwarna emas. Kenapa malah seperti perayaan tahun baru
China, ya? Ah, yang penting aku sudah membungkus tiga petasan itu jadi satu
kotak. Kuberikan uangku dan berterima kasih. Cukup sulit bagiku meraih
permukaan meja tinggi itu. Aku pun berbalik dan mulai berjalan untuk pulang.
Mulai memikirkan
kata-kata yang singkat, padat, dan jelas untuk kukatakan pada ketiga
personifikasi negara itu. Hn, aku tidak ingin mengulangi kata-kataku demi
mempertahankan imej sebagai anak-muka-tembok.
Mungkin sekedar kalimat singkat seperti “Selamat hari Valentine” terdengar
bagus. Sambil terus berpikir, aku masih berjalan pelan. Sampai aku berbelok ke
kiri, dan aku dikejutkan oleh seseorang yang tengah lari berlawanan arah
denganku. Kedua mataku agak melebar saking kagetnya.
Bruk!
Orang itu pun
menabrakku sampai aku terjatuh di trotoar. Aw, pantatku sakit. Kukernyitkan
alis dan kuusap pantatku untuk mengurangi rasa sakitnya. Sepertinya orang yang
barusan menabrakku juga melakukan hal yang sama. Dia bahkan mengaduh pelan.
Setelah pulih dari sakitku, aku pun mencoba untuk berdiri. Aku meraih bungkusan
yang tadi sempat terlepas dari pegangan.
Kuperhatikan orang
yang sudah berdiri dengan sendirinya itu. Anak laki-laki, dengan tinggi tubuh
sama sepertiku. Kulitnya sangat pucat, kemungkinan besar orang Eropa. Rambutnya
yang kelihatan halus berwarna pirang- bukan, mungkin lebih ke perak. Wajahnya
kecil- ah, lancang sekali aku bicara seperti itu, saat aku sendiri juga
demikian. Ia memakai kemeja putih, jaket coklat panjang, dan sepatu boot putih
sampai menutupi betisnya.
Anak itu sedang menepuk-nepuk
celana saat aku memperhatikan dirinya. Dan saat ia mengangkat wajahnya utnuk
menatapku, sekali lagi kedua mataku (sedikit) melebar.
Kedua mata violet itu. Walau sekilas terlihat datar seperti milikku, tapi sebenarnya kedua mata itu terlihat tenang dan teduh. Bibirnya lurus, tak kurang dan tak lebih semili pun. Entah kenapa aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari kedua mata jernihnya itu.
Kedua mata violet itu. Walau sekilas terlihat datar seperti milikku, tapi sebenarnya kedua mata itu terlihat tenang dan teduh. Bibirnya lurus, tak kurang dan tak lebih semili pun. Entah kenapa aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari kedua mata jernihnya itu.
.
.
“Kenapa?”
Tanyanya.
“... Kau tidak
apa-apa?” Tanyaku balik.
“Tidak apa-apa.”
Jawabnya.
.
.
Bagus. Saat ini
aku tengah mengerutuki kemampuan bersosialisasiku yang buruk. Entah apa yang
harus kukatakan di saat canggung seperti ini. Kenapa anak laki-laki ini sangat pendiam?
Biasanya selalu orang lain yang mulai mengajakku bicara, dan aku pun hanya menanggapi
mereka seadanya. Bahkan cukup dengan anggukkan atau gelengan saja jika perlu.
Tapi kali ini... Aku harus mengatakan sesuatu agar anak ini tidak segera pergi.
Ngomong-ngomong... Kenapa aku tidak ingin anak ini pergi? Padahal biasanya aku
tidak betah bersama orang asing lama-lama. Ada yang aneh...
“... Namaku Hong
Kong- maksudku, Wang Jia Long. Salam kenal.” Ucapku agak keceplosan. Baik Yao
sensei maupun pernah England bilang, bahwa keberadaan kami sebagai personifikasi
adalah rahasia. Aku tidak mengerti kenapa hal itu harus dirahasiakan, tapi
kuturuti saja. Kami para personifikasi negara memiliki umur yang panjang,
sepanjang negara yang kami wakili. Mungkin hal itu juga yang menyebabkan banyak
kontroversi dan pro-anti. Ah, aku bahkan tidak terlalu mengerti arti kata yang
barusan itu.
“Hong... Kong?”
Tanyanya heran.
“Aku Wang Jia
Long, dari Hong Kong. Kau?” Tanyaku. (Niki-chan: Wang Jia Long dari Hong~Kong~?
Hwahahaha!*dijejel petasan*)
“Hn. Aku Emil
Steilsson, dari Iceland.” Jawabnya.
“Oh. Aku ingin
minta maaf soal yang tadi.” Ucapku.
“Hn. Tidak
apa-apa. Salahku yang sudah berlari tadi.” Katanya.
.
.
.
Kebagusan yang
berlipat ganda. Aku tidak tau harus bicara apa padanya. Yang kami lakukan saat
ini hanya berdiri berhadapan di pinggir trotoar, diam, dan saling pandang. Seperti
orang bodoh, dan sepertinya akulah penyebabnya. Aku lebih suka menghadapi
ocehan tidak berguna America selama sejam penuh dari pada berada di situasi
ini. Tapi... Aku masih ingin berada di sini lebih lama lagi bersamanya.
Bagaimana ini?
“... Apa kau
sibuk?” Tanyaku. Dia menggeleng.
“Kau... mau
ngobrol denganku di sana?” Tanyaku sambil menunjuk sebuah bangku yang tak jauh
dari kami berdua. Dia mengangguk, dan kami mulai berjalan menuju bangku yang
kutunjuk tadi. Kami pun duduk di sana. Menatap jalanan yang tidak terlalu ramai
di depan kami, sambil menikmati sejuknya berada di bawah perlindungan dedaunan
pohon di belakang kami. Dan perlu dicatat sekali lagi, jika suasana heninglah
yang menguasai. Aku pun mulai memutar otak untuk mendapat bahan perbincangan
yang wajar. Obrolan apa yang biasa dibicarakan oleh orang dewasa? Tentang
cuaca? Sepertinya cukup basi. Aku tidak ingin terdengar seperti orang tua.
“Kau... Tau hari
apa ini?” Tanyaku mencoba memulai obrolan. Dan langsung kubodoh-bodohkan diriku sendiri
dalam hati. Hanya orang linglung yang akan menanyakan hari pada orang asing,
kan?
“Selasa.”
Jawabnya.
“Hn. Benar juga,
sih.” Ucapku.
“Tapi kakakku
bilang ini hari Valentine.” Ucapnya lagi.
“Hn. Kakakku juga
bilang begitu.” Sahutku. Aku harus berkumur sebanyak sepuluh kali sesampainya di rumah karena menyebut kalimat laknat tadi.
.
.
Keheningan kembali
menyelimuti kami. Rasa canggung pun seakan tak berat hati untuk ikut serta. Merasa
tak ada yang menarik dari jalanan di depanku, kutolehkan kepala ke samping
kananku, tempat Emil duduk hanya berjarak beberapa senti dariku. Kuperhatikan dirinya.
Tatapan matanya tidak benar-benar datar, karena aku masih merasakan adanya
emosi di sana. Rambut keperakanya bergerak pelan mengikuti arah angin.
Sepertinya sangat halus. Ingin rasanya aku mencoba mengelus surai di kepalanya
itu. Tapi itu bukanlah hal yang sopan. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya,
tapi aku bahkan tidak tau apa itu. Tapi aku yakin itu adalah hal yang penting.
“Iceland?” Panggil
seseorang.
Aku dan Emil
menolehkan kepala, dan melihat pria cantik tengah berdiri tak jauh dari kami.
Jepit rambut itu... Oh, dia pria yang kutemui di perpustakaan kemarin.
“Nor.” Jawab Emil.
“Kau anak yang
kemarin. Dia temanmu, Emil?” Tanya pria itu dengan suara lembutnya.
Mendengar
pertanyaan dari pria yang sepertinya kakaknya itu, Emil menolehkan kepalanya
untuk menatapku. Kubalas tatapanya. Adu tatapan datar pun terjadi. Entah kenapa
hatiku ketar-ketir menunggu jawaban darinya. Padahal itu bukan urusanku, kan?
Mau dia menganggapku temanya ataupun tidak, itu bukan urusanku, kan? Setelah terdiam
beberapa detik, akhirnya Emil membuka suaranya kembali.
“Iya. Dia teman
baruku. Namanya Wang Jia Long.” Jawabnya.
Dapat kurasakan
kedua pipiku memanas mendengar ucapanya. Kenapa? Entahlah, aku juga tidak tau.
Mungkin aku senang karena dianggapnya teman walau baru bertemu beberapa menit
lalu. Tapi... Kenapa aku senang, ya? Apa karena selama di Eropa beberapa bulan
ini aku memang tak memiliki teman seumuran? Bukan hanya pipiku, tapi dadaku
juga merasakan perasaan hangat yang membuatku nyaman. Apa ini?
“Namaku Lukas Bondevik,
kakak Emil. Emil, ayo pulang. Kau masih harus belajar sejarah di rumah.” Ajak
pria itu.
Emil pun berdiri
dan memenuhi ajakan pria bernama Lukas itu. Aku ikut berdiri dan memandangnya.
“Kau sudah akan
pulang ke Iceland?” Tanyaku datar.
Emil berbalik, dan
ia menatapku. Ia pun mengangguk. Berarti dia memang harus pulang ke negara
asalnya. Entah kenapa aku merasa tidak nyaman. Seperti... Ada rasa sesak di
hatiku saat mendengar hal itu. Kenapa? Heh, sepertinya aku banyak memikirkan
pertanyaan itu hari ini. Entahlah, aku ingin dia tinggal lebih lama dan
mengobrol denganku. Walau banyak terdiam seperti tadi, tak apa. Aku hanya ingin
bersamanya. Memandang wajahnya, dan mendengar suaranya. Tapi... Itu namanya
egois, kan? Dan Yao sensei selalu mengatakan bahwa egois itu adalah hal yang
buruk.
Jadi, kutarik pergelangan
tangan Emil untuk menghentikan pergerakanya. Ia menoleh, nampak kebingungan muncul
di pancaran mata violet itu. Dan pancaran kebingungan itu makin menjadi, saat
kututup jarak antara kami menggunakan bibirku. Ia pun sedikit melebarkan
matanya dan terlihat kaget. Dua detik lamanya kututup mataku, sebelum aku membukanya
lagi. Kujauhkan wajah agar bisa melihatnya lebih jelas. Kedua mata violetnya
yang memikat itu masih sedikit melebar, sepertinya masih kaget akan
perlakuanku.
“Kau mau menerima
ini?” Tanyaku sambil menyerahkan bungkusan di tanganku. Walau ragu, akhirnya
Emil menerimanya.
“Apa isinya?”
Tanyanya.
“Petasan. Selamat
hari Valentine.” Ucapku singkat.
“Petasan? Dan...
Bukankah hadiah Valentine itu harus kau berikan pada orang yang kau sayangi?”
Tanya Emil lagi.
“Memang.” Jawabku
sambil menatapnya mantap.
“... Hn, terima
kasih.” Ucapnya singkat, lalu ia berbalik dan berjalan ke arah kakaknya yang ternyata
masih menunggu. Nampak pria cantik itu tercengang walau sudah tertutup wajah
datarnya.
Aku pun menatap
punggung kedua orang itu dalam diam. Iceland... adalah negara yang sangat jauh nan
dingin. Kurasa mustahil bagi kami untuk dapat bertemu lagi. Lagipula... Dia
manusia biasa, kan? Makhluk mortal yang tak berumur panjang. Memang mustahil. Yah,
setidaknya aku menemukan ‘sesuatu’ karena bertemu denganya hari ini. Sesuatu
yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Suatu perasaan sayang, yang tidak sebatas
sayang terhadap keluargaku. Tetapi lebih ke arah... Ah, entahlah. Susah
menemukan kata yang cocok untuk menggambarkan perasaanku ini. Yang pasti, aku
merasa bahagia. Sangat.
Setelah sosok mereka tak terlihat lagi di
belokan, aku pun berbalik untuk pulang ke rumah England. Tapi sebuah suara yang
menyerukan namaku membuatku urung melangkah, dan aku pun membalikkan badan.
Nampak Emil yang berjarak agak jauh di sana melambaikan tanganya kecil ke
arahku.
“Kita pasti akan
bertemu lagi, Hong Kong...” Ucapnya sembari tersenyum kecil. Setelah mengatakan
kalimat itu, ia kembali berbalik dan berlari menjauh.
Aku tertegun mendengarnya.
Emil barusan memanggilku apa? Hong Kong? Saat kakaknya memanggil dirinya “Iceland” tadi...
kukira aku hanya salah dengar. Tapi ternyata Emil memang seorang...
“Pufft!” Aku berusaha
menahan tawa yang sudah ada di ujung bibir. Hal yang susah untuk dilakukan,
dengan segala rasa geli yang ada di dalam perutku. Setelah lebih tenang, aku
pun menghela nafas.
“Hah... Ya sudah,
lah...” Gumamku sambil tersenyum kecil. Aku pun meneruskan perjalanan pulangku.
-Skip-
Malam ini aku,
England, America, dan Canada makan malam dengan lebih tenang dari hari-hari
sebelumnya. Tidak ada pertengkaran ataupun kata-kata kasar yang terlontar di
atas meja makan seperti biasanya, sehingga malam ini terasa agak sepi. Makanan
pencuci mulutnya pun seloyang pai coklat yang England beli di toko sebelum
pulang tadi. Demi memeriahkan Valentine katanya. Tak apa, aku memang suka
coklat. Jika dalam mood baik, rasanya segala makanan memang akan terasa lebih
enak. Teh yang England buat pun terasa lebih manis walau tidak kutambahkan
sesendok gula pun.
Tapi... Perasaanku
saja atau memang ketiga orang itu memandangiku dengan tatapan aneh, ya? Padahal
kurasa tidak ada yang aneh dariku. Aku sudah mandi. Rambutku kusisir lebih rapi
dari biasanya, dan aku memakai kemeja merah juga celana hitam panjang biasa. Aku
bahkan sudah menerapkan tiap ‘sopan santun di meja makan’ yang England ajarkan
padaku.
“Kenapa?” Tanyaku
singkat.
“Eh? Eum...
Ano....” Canada tergagap. Memangnya kenapa dia? Aku tau jika dia pemalu dan
suaranya pun tak pernah berhasil melampaui batas senormalnya orang lain bicara,
tapi sepertinya ia jarang tergagap seperti itu. Kuangkat kedua alisku sebagai
pengganti pertanyaan ‘ada apa?’.
“Hong Kong... Sadarkah
dirimu bahwa kau terus menerus tersenyum sepanjang acara makan malam ini?!” Jerit
America tak percaya. Oh, jadi karena itu? Kukira ada hal gawat lain seperti... Sapi
yang mendadak melahirkan kucing, misalnya?
“Oh... iya.”
Jawabku singkat.
“Err... Apa yang
terjadi padamu, Hong Kong?”
Mendengar
pertanyaan dari England, aku balas menatapnya. (Sedikit) Kulebarkan senyumku,
dan hal itu malah membuat England sepertinya merinding. Kenapa? Padahal orang
lain seharusnya merespon senyum dengan senyum juga, kan? Tapi dari pada melihat
wajah kebingungan England terus, lebih baik aku menjawab keherananya.
“England, aku...
Sudah tau arti hari Valentine yang sebenarnya.” Jawabku sambil terus tersenyum
kecil.
“Be-benarkah?
A-apa itu?...” Tanyanya sedikit terbata.
“Valentine itu...
Iceland...” Jawabku mantap sambil memandang kedua bola mata emeraldnya lurus.
.
.
.
.
“Hah?”
Heran ketiga personifikasi negara itu bersamaan.
-End-
Yakk! Dan fic ini
berakhir dengan gaje-nya para readers sekalian! Gimana, gimana, gimana? Maunya
sih aku kasih Omake, tapi males, ah (*ditimpuk readers*). Dan karena males
bikin omake itu, malah endingnya gaje n’ gak klimaks gini. Hiks... Ada yang
berniat menyumbang review pada Author malang ini? Nanti aku kasih peluk
satu-satu, deh... See you minna... No flame please!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar